BERLANGGANAN
Dapatkan informasi tentang Bentara Budaya langsung ke surelmu. Daftarkan dirimu sekarang!

Kembali ke Video

Seni topeng memiliki sejarah yang cukup panjang di bumi Indonesia. Sejak zaman perunggu di Indonesia sudah dibuat topeng untuk keperluan ritual pemujaan, terbukti dengan ditemukannya topeng perunggu atau emas yang berumur ribuan tahun yang lalu. Kemudian di zaman Hindu kesenian topeng mulai populer di masyarakat, konon Maharaja Hayam Wuruk dari Majapahit pernah menarikan tari topeng dalam sebuah kesempatan perayaan kerajaan. Jadi kesenian topeng memang sudah populer sejak zaman dahulu kala. Di era globalisasi sekarang ini, seni membuat topeng di Jawa, semakin hari semakin menyusut jumlahnya, dari beberapa tempat pembuat topeng klasik untuk kelengkapan tarian Panji ataupun wayang topeng, saat ini hanya tinggal beberapa saja yang masih terus bertahan. Salah satunya adalah pembuat topeng di Dusun Bobung dan Batur, Kelurahan Putat, Kecamatan Patuk di Gunung Kidul. Pada dua dusun tersebut ada sekitar 120-an perajin yang piawai membuat topeng, loro blonyo atau kerajinan boneka lainnya, yang terbuat dari kayu pole, sengon, jati, jaranan ataupun terbelo puso. Kayu yang terakhir inilah salah satu bahan terbaik di sana untuk membuat topeng alusan, hanya sayangnya dari sekian banyak perajin topeng di Bobung ini. Saat ini hanya ada beberapa orang saja yang mempunyai kemampuan membuat topeng alusan, sedangkan perajin lainnya yang jumlahnya cukup banyak itu, mereka mahir membuat topeng batik ataupun jenis topeng souvenir lainnya. Mbah Karso dari dusun Batur adalah salah satu pembuat topeng terkenal zaman dahulu, dia terkenal di zamannya sebagai pembuat topeng alusan yang indah. Saat itu profesi empu topeng masih sangat langka, sezaman dengannya adalah Mbah Warno Waskita dari Diro Bantul. Sayangnya, Mbah Karso ini hanya mau menurunkan ilmu membuat topeng kepada menantunya saja, yang menjabat sebagai Kepala Dukuh di Batur, itupun hanya sebatas petunjuk menatah dan menyungging topeng. Dari Kepala Dukuh Batur yang bernama Wagio ini ilmu membuat topeng alusan ini beberapa puluh tahun yang lalu diturunkan kepada beberapa muridnya yaitu Tukiran dan Sujiman. Kemudian dari kedua orang pembuat topeng alusan ini, diturunkan lagi kepada Samadi sekitar tiga puluh tahun yang lalu dan saat ini Samadi mempunyai murid sekaligus keponakannya Agus Heri Bagong yang saat ini masih bertahan membuat topeng alusan. Selain mereka ada Supriadi yang ahli dalam menyungging topeng, sehingga tiga orang inilah saat ini yang menjadi andalan Desa Bobung dan Batur dalam mempertahankan seni topeng panji alusan. Pameran Topeng Panji dari Bobung ini adalah sebuah usaha melestarikan seni topeng Panji yang semakin terdesak keberadaannya. Semoga dengan pameran ini ada kemajuan yang menggembirakan bagi perkembangan topeng Bobung. (Hermanu, Kurator Bentara Budaya) Samadi adalah penerima Anugerah Bentara Budaya pada tahun 2017. Anugerah ini merupakan cerminan penghargaan dan apresiasi bagi para Pengabdi Seni Budaya di antaranya: Abdul Chaer (akademisi, ahli bahasa - Jakarta), Pardiman Djoyonegoro (komposer gamelan - Yogyakarta), Rudolf Puspa (tokoh teater - Jakarta), Sukirun (seniman Ludruk - Jawa Timur), Toni Harsono (pelestari Wayang Potehi - Jawa Timur), termasuk pula Samadi (seniman topeng - Yogyakarta) dan Ni Luh Menek (maestro tari - Bali).