Pameran Seni Rupa
"Kisah Dari Lemah Dadi"
In Memoriam Zaenal Arifin dan Lucia Hartini
Pembukaan pameran: Jumat, 6 Maret 2026 pukul 16.30 WIB oleh Oei Hong Djien (Founder OHD Museum)
Pameran berlangsung: 7-14 Maret pukul 10.00-21.00 WIB
Tempat: Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto No. 2 Kotabaru, Yogyakarta
Pada sebuah kesempatan pada Februari 1983, Bentara Budaya Yogyakarta yang saat itu masih berlokasi di Jalan Sudirman, menyelenggarakan pameran lukisan karya Lucia Hartini dan Zaenal Arifin. Harian Kompas mencatat peristiwa ini dalam satu kolom bertanggal 12 Februari 1983 dengan judul yang sederhana saja, “Suami Istri Pelukis di Bentara Budaya.”
Itulah pameran yang kelak mengantarkan keduanya menuju jalan kesenimanan yang unik. Di tahun-tahun berikutnya, baik Lucia Hartini maupun Zaenal Arifin, kian tak tergoyahkan sebagai pelukis surealis terpandang di Indonesia. Masing-masing juga beberapa kali mempercayai Bentara Budaya, baik di Yogyakarta maupun Jakarta, sebagai ruang untuk menampilkan karya-karyanya, walau tidak lagi dalam sebuah pameran bersama sebagaimana di tahun 1983 itu, sebab memang jalan hidup keduanya sebagai suami-istri ternyata akhirnya bersimpang arah.
Awal bersatunya dua hati adalah dari pandangan pertama, seperti syair lagu Ar Rafiq dalam Pandangan Pertama, hati yang berbunga-bunga melambung tinggi ke angkasa mengkhayalkan keindahan dan kebahagiaan. Namun dengan berjalannya waktu, nasib manusia kadang tidak sesuai dengan cita-cita kita. Daur hidup sejak awal telah digariskan Tuhan. Lucia Hartini telah berpulang mendahului kita pada 27 Agustus 2025, dan menyusul kemudian Zaenal Arifin pada 20 Januari 2026.
Arifin dan Tini dalam Memori
Seniman Dyan Anggraini suatu kali menyampaikan kenangan tentang sosok Zaenal Arifin yang adalah teman seangkatannya di ASRI Yogyakarta tahun 1976. “Saya ingat pada saat sekitar tahun mungkin 1979 atau 1980, Zaenal Arifin dengan beberapa teman-temannya bikin kelompok Raksasa. Kawan-kawan yang pameran pada saat itu adalah beberapa kawan yang semuanya berambut panjang, gondrong semua, dan karya-karya yang dipamerkan adalah karya-karya berukuran besar. Jadi sangat khas dan mungkin ini memang menjadi salah satu pertimbangan kenapa kelompok ini bernama Raksasa,” ujarnya.
Dalam catatan yang pernah ditulis Sindhunata di Kompas (02/02/1997) menyebut karya Lucia Hartini, Warta Payung Duaribu, sebagai karya yang memuat kegelisahan futuristik. Lukisan ini menggambarkan seorang wanita, berada di tengah batu karang, wajahnya berpaling ke belakang, menatap kedahsyatan gelombang lautan. Wanita itu memegang payung dan payung itu menempel di planet-planet angkasa. Dengan memperhatikan era lahirnya karya itu, yakni menjelang pergantian milenium, rasanya tidak berlebihan tafsir Sindhunata bahwa surealisme futuristik Tini adalah pantulan dari realisme pengalaman hidup manusia di abad keduapuluh yang memang pelik dan rumit, dan dalam menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian, tebersit pula kebijakan sehari-hari yang sederhana: sedia payung sebelum hujan!
Tentu masih banyak lagi kenangan yang kita miliki tentang sosok dua perupa ini. Maka, dengan maksud hendak merefleksikan perjalanan artistik mereka, Bentara Budaya Yogyakarta bersama dengan pihak keluarga serta seniman-seniman di Yogyakarta, menghadirkan pameran In Memoriam Zaenal Arifin dan Lucia Hartini: Kisah Dari Lemahdadi yang berlangsung pada 6 - 14 Maret 2026.
Lemahdadi adalah sebuah dusun di Kabupaten Bantul yang menjadi tempat tinggal Zaenal Arifin sebelum meninggal. Kata lemahdadi juga mengingatkan kita bahwa pada akhirnya semua makhluk akan kembali menyatu dengan tanah. Namun, kita percaya pencarian yang penuh ketulusan dalam jalan kesenian, akan membawa nama mereka harum mewangi dan terus abadi.
Tim Kurator Pameran