NEWS ART PROJECT
IMAJINESIA: Menjangka Masa Depan Indonesia
Tantangan: Mengatasi Kebuntuan Gagasan
Seniman kerap menghadapi tantangan, bagaimana caranya untuk menemukan inspirasi segar dalam menciptakan karya seni. Tantangan itu dipecahkan dengan dengan berbagai cara, seperti banyak jalan, merenung, menonton, berdiskusi hingga membaca buku. Namun, saat aktivitas pameran semakin padat, sebagian seniman merasa mandek dalam mengembangkan gagasan.
Sebenarnya riset ilmiah, katakanlah seperti tugas akhir di perguruan tinggi seni, bisa mengatasi kebuntuan semacam itu. Riset memungkinkan seniman meneliti berbagai sumber, membuat ipotesa, mengujinya, lantas mengolahnya menjadi rencana penciptaan baru. Selain menjanjikan karya kreatif, pendekatan ini menghasilkan kajian ilmiah.
Namun, riset ilmiah ini terlalu ketat dalam metodologi dan butuh waktu panjang. Pendekatan ini hanya mungkin dilakukan oleh mahasiswa perguruan tinggi seni yang didukung oleh fasilitas akademik, disokong bimbingan dosen dalam metode penelitian, dan dijalani melalui tahapan ujian. Sebagian seniman tak sempat atau kesulitan menjalani pendekatan dengan prosedur ketat semacam itu.
Sebagai alternatif, seniman dapat menerapkan pendekatan yang lebih fleksibel, yakni mengembangkan gagasan karya seni rupa melalui kajian arsip berita. Para seniman menggali ide dari arsip laporan jurnalistik oleh para wartawan di media. Karena diproses melalui standar jurnalistik yang memiliki nilai berita yang kuat, arsip-arsip ini merekam berbagai peristiwa fakual yang penting.
Dengan kekayaan informasi dari arsip tersebut, seniman leluasa memilih topik yang paling relevan dengan kondisi kekinian dan sesuai dengan pendekataan kekaryaannya. Dalam proses ini, kurator dapat menjadi pendamping sekaligus teman diskusi untuk mematangkan ide awal sampai menjadi gagasan penciptaan karya. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu seniman dalam menumbuhkan ide-ide segar.
News Art Project: Sebuah Tawaran
Pengembangan gagasan berbasis riset arsip jurnalistik ini dapat disebut sebagai "News Art Project." Sesuai namanya, proyek ini merupakan berusaha mencari titik temu atau antara seni rupa dan berita. Berita yang memprovokasi lahirnya karya seni. Atau karya seni yang diproduksi berdasarkan hasil kajian atau riset dari berita di koran, majalah, atau televisi. Singat kata, “News Art” adalah gambaran tentang karya seni yang dibuat berdasarkan produk jurnalistik.
Jangan bayangkan "riset" seperti penelitian ilmiah dengan prosedur ketat. Bisa dibilang, ini merupakan riset yang lebih praktis, simpel, dan fleksibel. Sederhananya, seniman ditantang untuk menjadikan arsip laporan jurnalistik sebagai insiprasi gagasan untuk melahirkan karya seni.
Seniman diberikan akses untuk membaca arsip berita agar dapat menemukan inspirasi yang menarik. Melalui arsip itu, seniman menggali konteks sejarah dan sosial-politik di balik topik pilihan. Topik itu lantas dikembangkan menjadi konsep berkarya. Konsep tersebut lantas ditransformasikan ke dalam bahasa visual sesuai modus masing-masing seniman.
Pendekatan itu potensial membantu seniman untuk menemukan gagasan yang relevan dengan isu sosial, politik, budaya, hingga lingkungan. Dengan gagasan yang kokoh, seniman dapat menyusun narasi yang menarik karena tidak hanya menghitung keindahan, tetapi juga lebih imajinatif, dan berbasis data yang faktual. Lebih jauh, metode kreatif ini membuka perspektif yang lebih segar dalam melihat persoalan, syukur-syukur membantu menawarkan solusinya.
Pendekatan ini dapat menyuarakan perspektif seniman dalam merespons isu-isu hangat, melakukan analisis, serta memberikan kontribusi nyata demi terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih baik. Ini potensial berkontribusi dalam pengembangan wacana seni yang kuat dalam basis data sekaligus relevan dengan kehidupan nyata.
“Imajinesia”: Menjangka Masa Depan Indonesia
Proyek ini mengangkat tema “IMAJINESIA”, kependekan dari “Imaji” dan “Indonesia”. Tema ini dimaksudkan untuk mengembangkan perspektif yang lebih visioner dalam melihat Indonesia masa depan.
Diksi “Imajinasi Indonesia” merujuk pada buku "Imagined Communities" (1983) karya peneliti Amerika Serikat, Benedict Anderson (1936-2015). Menurut dia, bangsa sejatinya merupakan sebuah komunitas politis dan dibayangkan terbatas secara inheren dan memiliki kedaulatan. Sebuah bangsa merupakan “komunitas terbayangkan” oleh masyarakat.
Dengan tema "Imajinesia", para seniman diajak untuk “berimajinasi tentang Indonesia.” Imajinasi itu dibangun dengan mencermati sejarah masa lalu, menangkap kondisi nyata masa kini, dan kemudian menjangka (membayangkan, meramalkan) Indonesia pada masa depan. Seniman bebas memilih fokus sesuai “concern” masing-masing dengan pendampingan para kurator.
Para seniman diundang untuk menelusuri arsip berita jurnalistik dari harian Kompas. Berdiri sejak tahun 1965, media ini merupakan salah satu media jurnalistik berbahasa Indonesia nasional yang hidup selama 61 tahun melintasi zaman Orde Lama, Oder Baru, hingga Orde Reformasi. Selain memberitakan berbagai peristiwa aktual, laporan jurnalistik Kompas berusaha mencerdaskan kehidupan bangsa melalui penyajian informasi yang jernih dan terpercaya. Selain berupa koran cetak, sejak tahun 2017 media ini juga mengembangkan versi digitalnya melalui kompas.id.
Dari arsip Kompas, para seniman diajak untuk memilih “insight” yang dianggap paling menarik dan relevan untuk dijadikan inspirasi dalam membuat karya seni rupa. “Insight” itu bisa berupa “subject matter” apa saja, mulai dari peristiwa sosial, politik, ekonomi, metropolitian, ilmu pengetahuan dan teknologi, budaya, gaya hidup, atau olahraga. Setiap seniman mendapatkan kesempatan untuk menggali kekayaan berita, kemudian mengolahnya menjadi konsep penciptaan kreasi seni baru.
Meski bebas untuk mengangkat masalah apa saja, tetapi seniman diharapkan tidak berhenti pada kritik atas segudang persoalan bangsa. Lebih dari itu, seniman sebisa mungkin juga diajak untuk memikirkan bagaimana mengatasi persoalan itu. Setiap seniman akan diposisikan sebagai subyek atau aktor yang dapat berkontribusi nyata untuk menawarkan solusi atas masalah yang dhadapi bangsa Indonesia.
“Imajinesia” mengandung semangat optimistis dalam melihat kehidupan. Apa pun masalah yang pernah terjadi pada sejarah masa lalu, atau masih berlanjut hingga masa kini dihadapi, seniman dapat mengambil sudut pandang yang lebih konstrukti. Ketimbang mengutuk kegelapan, lebih baik seniman menyalakan lilin untuk membantu mendapatkan terang. Tema ini menyiratkan kontribusi seniman dalam membangun kehidupan bangsa yang beradab pada masa depan.
Kolaborasi 8 Seniman dan 8 Kurator
Pada parktiknya, "New Art Project" dijalankan oleh delapan kurator Bentara Budaya dan delapan seniman terpilih. Cara kerjanya: satu kurator menampingi satu seniman. Putu Fajar Arcana menemani Aprililia; Frans Sartono membersamai Suharmanto; Efix Mulyadi bersama William Robert; Wisnu Nugroho dan Ruth Marbun; Sindhunata dan Budi Ubrux; Hermanu dan Mahdi Abdullah; Hilmi Faiq dan Agus Suwage; serta Wawan Abk bersama Tumariyanto.
Mereka melakukan riset terhadap arsip berita harian "Kompas" yang terbit sejak 1965. Mereka bebas menggali berbagai isu, mulai dari masalah sosial, politik, budaya, sampai lingkungan. Dari situ, mereka merumuskan ide penciptaan karya seni yang diharapkan memiliki gagasan kuat, estetika visual tajam, dan relevan dengan realitas kehidupan.
Gagasan kuat lantaran terinspirasi dari arsip berita yang diproduksi wartawan melalui kerja jurnalistik serta prosesnya didampingi para kurator. Estetika visual tajam diasah dari diskusi dan inkubasi (pengeraman ide). Relevan dengan kehidupan karena semua laporan jurnalistik berangkat dari peristuwa nyata sehari-hari. Hasilnya akhirnya dapat kita nikmati dalam pameran News Art Project betrtema "IMAJINESIA: Menjangka Masa Depan Indonesia" di Bentara Budaya Jakarta, 23 September - 15 Oktober 2026.
Aprililia menggarap arsip kebudayaan Minangkabau untuk mengembangkan lukisan yang agak abstrak, bermain simbol dan penuh energi. Bertolak dari arsip berita tewasnya Sum Kuning (1970) dan Marsinah (1993), Suharmanto melukiskan perempuan yang "diam". Kediaman yang menunjukkan posisi lemah karena kerap ditumbalkan sebagai korban.
Berangkat dari berita wacana Maluku sebagai lumbung ikan nasional, William Robert melahirkan lukisan abstrak dengan bidang-bidang dan warna cemerlang. Terinspirasi berita Pak Mayar (petani penggarap di Cikeas, Jawa Barat), Ruth Marbun membuat karya instalasi yang ekspresif. Material instalasi menggunakan benda-benda terkait koran.
Budi Ubrux mengolah berita tingkah para politisi dalam kampanye pemilu menjadi lukisan manusia-manusia terbungkus koran yang getol berjoget ria. Judulnya pinjam istilah lazim dalam kampanye, "Dijogetin Aja." Berita polemik militerisme dalam kawasan Blang Padang, Aceh, mendorong Mahdi Abdullah melukis pemandangan sawah bergaya "mooi indie" yang disisipi kejutan berupa tembok besar bergambar loreng kehijauan yang lazim jadi seragam tentara.
Liputan tentang pabrik gula digarap Agus Suwage menjadi lukisan manusia-manusia di ladang tebu. Tumariyanto mengolah artikel terkait Chairil Anwar untuk melukis sosok penyair itu dalam balutan kebudayaan Indonesia yang bakal "Hidup Seribu Tahun Lagi."
Karya-karya itu menggambarkan imajinasi para seniman dan kurator tentang Indonesia. Imajinesia. Sekali lagi, imaji masa depan itu dibentuk dari sejarah masa lalu dan kejadian yang berlangsung pada masa kini.
Lebih dari itu, News Art Project diharapkan dapat mendukung seniman untuk menggali ide dan mengembangkannya menjadi konsep penciptaan karya seni rupa sekaligus mengatasi kebutuan ide yang dialami sebagian seniman. Dengan berbasis riset arsip laporan jurnalistik (Kompas), maka seniman mendapatkan gagasan penciptaan karya yang lebih mengakar pada sejarah dan relevan dengan kondisi masyarakat. Pendampingan satu kurator untuk satu seniman berpotensi membantu proses kreatif yang lebih efisien, idiom visual yang kuat, dan akhirnya menghasilkan karya final yang menarik.
Terima kasih kepada delapan seniman dan delapan kurator yang telah berkolaborasi dalam waktu yang terbatas untuk membaca arsip Kompas, mengembangkan konsep penciptaan, dan akirnya mengekseskusinya menjadi karya seni. Beberapa kurator bahkan mengunjungi studio seniman demi memastikan proses kreatif itu berjalan lancer sesuai haraoan.
Apresiasi untuk Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno yang membuka pameran. Penghargaan untuk Corporate Communication Director Kompas Gramedia Glory Oyong, yang selalu support kegiatan budaya, beserta seluruh kru Bentara Budaya, dan tim Corporate Communication. Salut untuk semua pihak yang mendukung pergelaran ini.
44 Tahun Bentara
Kebetulan, pameran ini berlangsung dalam rangkaian syukuran hari ulang tahun Bentara Budaya ke-44. Bentara didirikan di Yogyakarta pada 26 September 1982, disusul di Jakarta pada 1986, dan Solo serta Bali pada 2009. Kini, aktivitas Bentara terpusat di Yogyakarta, Jakarta, dan Bali.
Bersamaan dengan pameran di Jakarta, digelar juga pameran "Mbesuuk: The Future of Yogyakarta" di Bentara Budaya Yogyakarta, 26 September-9 Oktober 2026. Diikuti oleh 19 seniman, pameran menyajikan beragam karya yang memotret imajinasi tentang Kota Yogyakarta pada masa kini dan masa depan.
Di Bali, digelar Diskusi tentang "Ruang, Rasa, Sesama: Refleksi Seni dan Kepedualian Hari ini" di Gedung Unit 1, Kompas Gramedia Ketewel, Jumat (25 September 2026). Hadir sebagai narsumber, Jean Couteau (antropolog dan budayawan) dan Ida Ayu Wayan Arya Satyani (koreografer, akademisi Institut Seni Indonesia di Denpasar, Bali).
Semua kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian ungkapan syukur atas perjalanan Bentara Budaya selama 44 tahun. Lemnbaga ini berkomitmen untuk terus menjadi "hub" yang memanggungkan karya-karya seni hasil kreasi anak bangsa lintas generasi. Harapannya, upaya ini dapat mendukung kreativitas seniman Nusantara sekaligus memajukan kebudayaan Indonesia.
Palmerah, 21 September 2026
Ilham Khoiri
General Manager Bentara Budaya & Communication Management,
Corporate Communication Kompas Gramedia