“Napas seni berasal dari orangtua kami..” kata Agnes Linggar suatu kali. Ayah mereka Liem Tjun Hwat atau Linggar adalah perangkai bunga, baik dari bunga asli ataupun bunga yang dibuat dari kertas. Adapun Nyonya Linggar, ibu mereka, adalah pembuat gaun pengantin. Mereka yang dimaksud adalah anak-anak keluarga Linggar yaitu Edward Linggar (1944--2007), Josephine Linggar (83), Agnes Linggar (80), dan Richard Linggar (79). Lingkungan terdekat yang sibuk dengan praktik seni visual tersebut telah menyuburkan minat dan bakat anak-anak keluarga Linggar. Dan karya mereka bisa kita simak di Bentara Budaya Art Gellery, di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta.
“Kami semua belajar seni secara otodidak. Kami menggeluti kesenian sendiri, tidak ada yang belajar seni di sekolahan,” kata Agnes melanjutkan. Deretan nama Linggar itu akan bertambah panjang jika ditambahkan nama Davy Linggar, seorang seniman fotografi, yang merupakan anak dari Richard Linggar.
Semangat berkreasi lahir dari situasi. Liem Tjun Hwat semula mempunyai usaha di bidang tembakau, akan tetapi karena tuntutan situasi dia beralih sebagai perangkai bunga. Suatu kali terjadi seretnya pasokan bunga. Sutasi itu mendorong Linggar untuk membuat bunga dari kertas. Maka, bunga mawar hingga bunga anggrek dibuat sendiri oleh Linggar dari bahan kertas. Kadang untuk mendekati warna alami, Linggar menggunakan cat.
Edward Linggar
Anak tertua dari keluarga Linggar adalah Edward Linggar. Beliau pernah menjadi wartawan Harian Kompas. Edward disebut-sebut ikut berkontribusi dalam pembuatan logo harian Kompas. Edward kemudian bekerja di Gramedia Film yang masih berada di lingkungan perusahaan Kelompok Kompas Gramedia. Perusahaan film ini pernah memproduksi film Suci Sang Primadona (1977) karya sutradara Arifin C Noer yang dibintangi Joyce Erna dan Rano Karno. Juga film anak Harmonikaku (1979), yang disutradarai Arifin C Noer yang dibintangi Fachrul Rozi dan Nani Wijaya.
Kreavitas Edward Linggar diceritakan oleh adik-adiknya. Dikatakan, Edwardlah yang mencarikan nama keluarga Linggar. Nama keluarga itu diambil dari nama shi Liem yang artinya hutan. Padanan dari hutan dalam bahasa Jawa adalah Linggar. Kreativitas Edward bisa dikatakan lintas batas. Dia menyukai fotografi; Dia gemar menulis, termasuk puisi. Dia bahkan pernah menulis naskah drama, termasuk membuat drama tari.
Edward Linggar kemudian menjadi wartawan Harian Kompas pada masa awal koran ini berdiri. Putra Edward yaitu Andrew Linggar, menuturkan tentang bapaknya yang suka bercerita tentang pengalaman sebagai wartawan Kompas pada masa awal. Waktu itu pendiri Kompas, Pak PK Ojong, dengan mobil menjemput sendiri karyawan yang tempat tinggalnya satu rute dengan beliau menuju kantor Redaksi Kompas. Kebetulan Edward tinggal di rute yang dilalui Pak Ojong, sehingga ia termasuk yang dijemput beliau menuju ke kantor di Jalan Gajah Mada.
Edward Linggar meliput bidang kebudayaan termasuk film dan seni rupa. Rekan segenerasi Edward, Pat Hendarto, mengatakan Edward sebagai wartawan yang sangat kritis. Suatu kali dalam acara jumpa pers seusai pemutaran fim Pengantin Remaja (1971) ia bertanya kepada Sutradara film tersebut yaitu Wim Umboh tentang durasi film yang terkesan diperpanjang, meski seharusnya sudah cukup.
Pat juga bercerita tentang kesigapan Edward dalam meliput peristiwa apa saja dan kapan saja. Edward ditugasi meliput pameran lukisan di Balai Budaya, Jakarta. Karena urusan lain, Edward berhalangan datang ke tempat liputan, hingga Pat ditugaskan sebagai pengganti. Begitu urusan selesai, Edward segera meluncur ke Balai Budaya menjalankan tugasnya.
Edward memang ‘multitasking’ dan serba sigap. Agnes Linggar menceritakan, suatu kali ketika masih tinggal di Jember, Edward membuat drama tari “Rama Sinta” dengan pemain Edward sendiri dan adik-adiknya. Edward menjadi sutradara, penulis naskah, sekaligus pemeran tokoh Rama. Josephine memeran tokoh Sinta, sedangkan Agnes menjadi tokoh Dewi Tara, merangkap Dewi Api. “Kami mengenakan pakaian tradisi yang kami rancang sendiri. Akan tetapi, tarinya kami pakai gerakan balet,” kata Agnes. Drama tari tersebut dipentaskan dalam rangka acara sekolah mereka yaitu SMA Santo Paulus, Jember.
Mekar dan Berkarya
Di kemudian hari, ketika anak-anak keluarga Linggar sudah dewasa, dan mereka berpindah pindah ke Jakarta, dunia kreatif tetap menyertai mereka. Aktivitas utama mereka tetap tidak jauh dari kesenian. Josephine Linggar menekuni dunia melukis. Dalam lukisannya, Josephine bereksplorasi dalam menggambarkan figur perempuan. Dia menghadirkan perempuan dalam suasana hening dan kontemplatif. Dia mengungkapkan keindahan, kelembutan, keteguhan, sekaligus kompleksitas pengalaman perempuan.
Josephine pernah menggelar pameran di dalam maupun di luar negeri. Dia antara lain pernah berpameran tunggal di Jenewa, Swiss, pada 1994. Salah satu karya Josephine menjadi koleksi di Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Ia pernah melukis potret Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada 2001 dan 2002, Josephine terpilih sebagai finalis Philip Morris Art Awards dan Indofood Art Awards.
Agnes Linggar Budhisurya merupakan perancang busana yang juga melukis dengan gaya realis. Ia memadukan seni rupa dan mode dengan menjadikan kain sebagai medium ekspresi artistik. Melalui teknik melukis bebas langsung di atas kain, Agnes menghadirkan karya busana yang tidak hanya fungsional, tetapi sekaligus juga menjadi karya rupa. Agnes juga melukis di atas kanvas yang kemudian diolah, dan diaplikasikan ke dalam gaun rancangannya. “Setiap berpameran saya selalu ingat ibu. Saya membayangkan Ibu saya hadir, kata Agnes Linggar.
Agnes pernah mendapatkan penghargaan MURI sebagai Perancang Busana Pertama yang Melukis Bebas di Atas Kain. Karya-karyanya pernah tampil di ajang mode di Festival di Shanghai, Indonesian Night di Washington D.C., Miss World Top Model Show di Bali.
Richard Linggar melukis dengan gaya realis. Richard menghadirkan karya-karya dengan dua pendekatan yang berjalan berdampingan, yaitu realis murni dan realis dekoratif. Ia juga merupakan seorang perangkai bunga dan dekorator. Sebenarnya dia juga menekuni fotografi, akan tetapi tidak ditampilkan dalam pameran di Bentara Budaya Art Gallery. Putranya Richardlah yang menekuni fotografi, dan sering berkolaborasi dengan seni rupa. “Waktu kecil, saya sering ajak Davy jalan-jalan. Pernah ke kebun karet, atau kampung nelayan. Dia memotret di sana..” kata Richard.
Dari karya-karya Linggar bersaudara yang dipamerkan di Bentara Budaya Art Gallery tampak mereka trampil menggambarkan berbagai rupa alam benda, tanaman, bunga-bungaan, dan tentu juga sosok manusia. Josephine dan Richard kemudian banyak menghasilkan lukisan, sedangkan Agnes selain membuat lukisan bebas juga menjadi perancang baju, dengan gambar bunga-bungaan yang dilukis langsung di atas kain untuk bahan rancangannya.
Untuk pameran ini Agnes menyiapkan kain yang bakal dibuat busana lengkap dengan acara peragaan oleh model. Sebuah berukuran 430 cm X 140 cm, berisi lukisan anggrek bulan. Selembar lainnya sepanjang 380 cm, bergambar lotus. Keduanya dikerjakan dengan cat akrilik. Secara umum gambar di kain calon busana ini senada dengan isi sejumlah karya lain yang dimaksudkan sebagai lukisan – yaitu berukuran “lazim” seperti umum dikenal, dan diberi pigura untuk dipasang di dinding. Pada kain busana gambar-gambar bunga itu boleh dianggap sebagai motif hias, menjadi karya seni yang sering disebut “fungsional”. Namun demikian ketika dipagari dengan bingkai pigura ia adalah karya seni dwimatra yang mandiri.
Dua saudaranya bertumpu pada tema perempuan. Josephine mengejar pesona sosok maupun keragaman busana adat atau tradisi yang dikenakan. Maka ia melukiskan perempuan Dayak, Bali, Lampung, Minang, Jawa, Sunda, dan “Chindo” atau “peranakan”. Semua tampil elegan, lengkap dengan tanda-tanda fisik seperti baju bermotif setempat serta berbagai hiasannya yang dikenal umum, termasuk bulu burung di kepala.
Pada beberapa karya, Richard memainkan unsur-unsur simbolik dan penanda lain seperti gestur tokohnya, bahkan komposisi bidang-bidang warna yang tampaknya diharapkan menimbulkan makna baru. Penonjolan hanya sepasang tangan yang khusuk berdoa rosario adalah salah satu contoh. Lukisan lain menampilkan seorang perempuan memeluk bayi dengan tubuh yang menyatu dengan batang pohon. Di seputar kepala mereka tampak himpunan berkas-berkas bunga. Apakah ini? Renungan tentang kesuburan, risalah siklus kehidupan, berharap pada masa yang akan datang, atau lainnya? Anda bebas menafsirkannya.
Melihat lingkungan artistik seperti ini, herankah kita kalau kemudian tumbuh seorang seniman dari generasi berikutnya? Davy Linggar, putera Richard, telah menempatkan diri di dalam pusaran seni rupa kontemporer Indonesia. Dia dikenal luas lewat karya-karyanya yang berbasis fotografi. Selain itu ia juga melukis (yang dilakukannya sejak kecil). Lelaki 52 tahun ini sering membuat seni instalasi dari obyek temuan – sebuah praktek berkesenian yang populer di dalam era kontemporer. Banyak berpameran di negeri sendiri maupun secara internasional, karyanya yang berkolaborasi dengan Agus Suwage bertajuk “Pinkswing Park” menarik perhatian karena soal politik dan kebebasan berekspresi di Indonesia.
Kurator Bentara Budaya
Frans Sartono
Efix Mulyadi