Anak dalam Lintasan Waktu
Pameran koleksi Bentara Budaya kali ini bertajuk Anak dalam Lintasan Waktu. Dari 33 karya yang terpasang di Bentara Budaya Art Gallery ini, kita melihat bagaimana anak-anak dari masa ke masa berada di tengah gelombang yang dimainkan oleh tangan-tangan sejarah; oleh tangan-tangan kekuasaan. Mereka terombang-ambing oleh situasi di sekitarnya. Meski demikian, ada satu kehebatan anak yaitu mereka tidak kehilangan semangat hidup; selalu ada energi gembira, pada situasi sekeras apa pun yang melingkupi mereka. Di tengah berbagai situasi, mereka bermain, dan ini menjadi semacam “sekolah” bagi mereka untuk masuk ke realitas kehidupan dewasa. Di atas segalanya ada kasih Ibu; ada kehangatan keluarga yang menjadi rumah aman, safe haven bagi anak.
Kita simak lukisan “Gerilya” karya S. Sudjojono, 1968. Warna berat dan gelap meliputi sebagian karya ini, menghadirkan atmosfer tegang dan gawat. Suasana mengancam terlihat dari gestur dan wajah dua lelaki yang tampak bersiaga dengan senapan laras panjang. Sepatu lars di kaki para gerilyawan semakin menebalkan rasa genting.
Di antara mereka ada sepasang suami istri dan dua anak perempuan mereka. Tampak ada situasi bercanda dengan bocah balita. Sungguh sebuah pemandangan dramatik: seorang bocah tak berdosa berada di tengah gerilyawan yang menyandang senapan. Ada pula seorang ibu di belakang pejuang. Suasana tegang revolusi bersenjata seperti menepi. Nuansa keras melembut dengan hadirnya anak-anak tersebut. Suasana terasa semakin cerah dengan latar belakang alam pegunungan nun jauh di latar: langit biru, awan putih. Sosok anak-anak itu seperti menebar harapan, dan menjadikan perjuangan menemukan tujuan.
Dari masa revolusi seputar 1945-nya Sudjojono kita melompat ke masa pembangunan lewat karya Dede Eri Supria “Anak-anak Ibu Kota” (1985). Dengan apa yang disebut gaya realisme fotografis, Dede memotret kehidupan kota besar di masa yang digembar-gemborkan sebagai era pembangunan. Tampak sekumpulan anak-anak bertelanjang kaki dengan mainan mereka berupa mobil-mobilan dari kayu. Di belakang mereka tampak deretan mobil (beneran). Tampak pula deretan nama-nama korporasi, dan rumah susun. Pada deretan yang sama tampak rumah berdinding anyaman bambu, berpagar bambu.
Boleh dikata lukisan ini — dan banyak lukisan Dede yang lain — adalah potret Indonesia yang gamang menjalani proses perubahan untuk mencapai “kemajuan”. Anak-anak dalam lukisan Dede menandai fase masyarakat yang berbeda. Dede menunjukkan simpatinya kepada generasi termuda pada saat itu yang mengalami masa yang tak kalah sulit: tergusurnya kaum miskin dari tengah kehidupan perkotaan. Tak ada lagi tempat bermain yang nyaman dan aman, seperti juga tak cukup peluang hidup bagi para orang dewasa yang miskin di tengah gegap gempita “pembangunan”.
Boleh dikata lukisan ini — dan banyak lukisan Dede yang lain — adalah potret Indonesia yang gamang menjalani proses perubahan untuk mencapai “kemajuan”. Sebuah potret ironisme pembangunan; ketidakmerataan, ketidakadilan ekonomi.
Selain menanggung dampak ketidakmerataan, anak-anak juga terdampak situasi sosial ekonomi. Yuswantoro Adi dalam “Menukik” (1999) menggambarkan wajah polos anak saat melihat mainan pesawat kertas terbang menukik. Mainan pesawat itu terbuat dari lembaran uang kertas. Terasa ada unsur humor yang mungkin pahit. Mengapa, karena kondisi ekonomi yang jatuh menukik bisa memakan korban anak.
Anak juga menjadi korban di zaman edan. Mereka menjadi permainan manusia rakus. Seperti disampaikan Sigit Raharjo dalam karya “Komoditi Ekspor” (2005). Anak-anak dengan segala kemurnian dan kepolosan mereka diperjualbelikan tak lebih sebagai “barang”; seperti diibaratkan Sigit Raharjo dengan menempatkan bayi-bayi dalam kardus. Mereka dipisahkan dari ruang kasih dan kehangatan keluarga.
Polos Menatap Dunia
Menyimak lukisan Sudjojono, Dede Eri Supria, Yuswantoro Adi, dan Sigit Raharjo, kita melihat wajah-wajah polos dan cerah. Mereka menatap dunia dengan senyum, meski dunia di hadapan mereka dalam kacamata dewasa dipandang ruwet dan rumit.
Kegembiraan dunia anak juga ditunjukkan Koentjaraningrat lewat “Anak-anak Sasak” (1990). Mereka adalah manusia merdeka dan gembira. Sebagai catatan, Koentjaraningrat sebagai antropolog yang gemar melukis, sering membuat sketsa dan lukisan ketika melakukan perjalanan ke berbagai daerah. Dalam “Anak-anak Sasak”, kita seperti diajak berkelana di Pulau Lombok, masuk ke ranah kehidupan masyarakat Sasak.
Di sana terasa suasana damai dan tenteram yang menonjol. Anak-anak bermain di lahan luas dengan latar rumah adat yang disebut Bale. Rumah adat ini terbuat dari bahan alami, tanpa paku. Ada rumah yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan beras: sebuah penanda kemakmuran. Anak-anak bermain dengan bertelanjang dada, tanpa alas kaki, mengenakan kain yang diikatkan ke pinggang sebagai penutup. Tak tampak sesuatu yang bisa dikatakan sebagai “artefak” modernitas, namun itu bukan berarti tak ada kegembiraan pada anak-anak Sasak.
Kegembiraan bermain juga tampak dari lukisan Agus Handoko “Kling Kling Brok” (2007). Di daerah lain ada yang menyebut permainan ini sebagai ingkling atau engklek. Intinya adalah pemain menggunakan satu kaki untuk melompat-lompat dari satu kota ke kotak lain. Bermain disebut Ki Hadjar Dewantara sebagai kodrat anak. Bermain menjadi pondasi penting bagi anak untuk membangun diri mereka. Mereka belajar memahami kehidupan lewat bermain.
Ruang kasih, Safe Haven
Sejumlah karya dalam pameran ini mengungkapkan relasi antara anak dan orangtua, terutama ibu. Pada lukisan “Gerilya”-nya Sudjojono hadir sosok ibu dan anak-anak mereka, bersama para pejuang gerilya. Di tengah sosok-sosok tersebut terasa hadir apa yang disebut sebagai safe haven atau ruang aman. Dalam suasana revolusi, ada ruang kasih yang hangat yang menjadikan anak aman.
Dalam situasi apa pun, ibu akan membuka ruang kasih itu bagi anak mereka. Seperti digambarkan Hendra Gunawan dalam “Bakul Wayang” (1968). Hendra bercerita tentang kehidupan seniman panggung wayang. Di atas panggung, Ibu mencari rezeki untuk menghidupi anak. Di panggung pula, ibu bisa berperan sebagai tokoh siapa saja. Sementara di panggung kehidupan nyata, Sang ibu berperan sebagai ibu sungguhan. Ia mencari uang dan menyusui sang bayi dalam dekapan.
Relasi Ibu-anak juga digambarkan Wardojo dalam “Siteran” (1989). Wardojo menyuguhkan drama kehidupan pasangan pengamen dan anak bayi mereka. Sang ayah memetik siter, dan sang Ibu menjadi penembang. Di tengah mereka ada seorang bayi yang harus dihidupi. Saat beristirahat, sang ibu dengan dandan menor menyuapi bayinya.
Surga yang aman, nyaman, tenteram juga dilukiskan Budiyana dalam “Ngemiki” atau menyusui (2014); Begitu pula diungkapkan oleh Subroto Sm dalam “Ibu dan Anak” (1984). Memberi keteduhan, perlindungan kepada anak memang sudah tertanam dalam naluri. Juni Wulandari dalam “Kelahiran” (1999) melukiskan Ibu bagaikan perahu yang menyangga tiga anak bayinya di tengah samudera kehidupan yang akan mereka jalani. Meski wajah tampak lelah, akan tetapi ibu tetap menjaga anak-anak agar mereka tidak tenggelam.
Soenarto Pr. dalam “Ibu dan Anak” (1985) mengungkapkan kehangatan hubungan anak dan ibu saat sang Ibu menyisir rambut anak putrinya yang tampak sudah remaja. Terasa hadir atmosfer hangat di antara ibu dan putrinya. Ada komunikasi antar jiwa antara anak dan ibu. Ada getaran kasih ketika tangan ibunda menyentuh lembut rambut panjang sang putri. Dari rahim kasih keluarga inilah, anak-anak tersenyum manis menatap jalan kehidupan.
Frans Sartono & Efix Mulyadi
Kurator Bentara Budaya