Menyelami Dunia Anak
Apa perbedaan antara dunia anak yang dilukis oleh seniman dewasa dan anak yang digambar oleh seniman cilik? Sama-sama mengangkat tema anak, tetapi hasilnya cenderung punya nuansa dan pesan yang berbeda. Tentu, masing-masing punya daya tarik sendiri-sendiri.
Di mata seniman dewasa, anak kerap dihadirkan sebagai representasi konteks sosial-politik yang kompleks. Bagi seniman cilik, dunia anak adalah jagat yang polos, mengasyikkan, dan permainan imajinasi tanpa batas. Bagaimana jika dua perspektif ini disandingkan dalam satu ajang pameran?
Jawaban itulah yang diupayakan Bentara Budaya melalui Pameran Seni Rupa “Anak dalam Lintasan Waktu” di Bentara Budaya Art Gallery di Lantai 8 Menara Kompas, Jakarta, 11 Juni17 Juli 2026. Pergelaran ini menampilkan dua generasi berbeda. Satu pihak, ada 33 seniman dewasa yang melukis anak. Pihak lain, ada 17 seniman cilik yang menggambar dunia anak. Kurasi ditangani Frans Sartono dan Efix Mulyadi.
Sebanyak 33 seniman dewasa itu berasal dari beberapa angkatan, sebagian maestro seni rupa modern Indonesia. Mereka adalah Agus Handoko, Agus Salim, Argo Nunggal, Budiyana, Dede Eri Supria, Didik Suardi, Faisal, Guntur Songgolangit Suryo W, Gusti Sholihin, Hadi Soesanto, Hendra Gunawan, Herri Soedjarwanto, Indros, Ipe Ma’aruf, Ivan Yulianto, Juni Wulandari, Ketut Nama, Koentjaraningrat, M Daryono, Nabila Nisa Hafidzh (Nisa), Rangga Jalu Pamungkas, S. Sudjojono, Sigit Raharjo, Soenarto Pr, Sri K Hidayat, Subroto Sm, Sudarso, Sugiono, Tijo Ism, Trubus Soedarsono, Wardojo, Yuli Kodo, Yuswantoro Adi. Karya mereka merupakan koleksi yang dikelola Bentara Budaya.
Sementara 17 seniman cilik itu berusia antara 6 sampai 16 tahun, berasal dari berbagai wilayah, seperti Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi (Jawa Barat), Tangerang, Tangerang Selatan (Banten), dan Makassar. Mereka meliputi Agatha Lynnelle Tandean, Alissa Herliyanti, Annisa Faiha Mudhiyah, Astrid Olivia Fitriyani Tama, Chelsea Mufida Salsabila Rangan, Fabain Sharen, Gwenny Keinaa Paembonan, Jennifer Sharon, Kirani Halimah Nursyifa, Kilau Birubulan, Lembayung Jingga Ramadhan, Lovely Jemmy Charter, Nabila Sanchia Rahman, Putri Ramadhaniar Sanjaya, Rafael Demetrio Banyubiru, Sansa Ashviya Al Rasyid, dan Shelina Mahika Surya.
Lukisan tentang anak oleh para seniman dewasa mencerminkan kompleksitas pikiran orangtua. Sebagian anak-anak yang dilukis memang tampak lucu, menggemaskan, dan ceria. Namun, di balik itu, sebagian karya dibebani pesan yang berat.
Ambil contoh, lukisan “Anak-anak di Ibu Kota” (1985) karya Dede Eri Supria. Puluhan anak-anak bergembira dengan menenteng mainan ala kadarnya. Mereka tertawa, saling gandengan, berangkulan, dalam pakaian ala kadarnya. Namun, di belakang mereka, tampak gedung-gedung bertingkat dari beton yang memenuhi kawasan kota, termasuk menggerus ruang terbuka tempat anak bermain.
“Gerilya” (1968), lukisan karya S Sudjojono yang terkenal itu, memotret dua anak kecil tengah bercengkrama bersama ayah-ibunya di bawah pohon yang sejuk. Semua tampak santai sampai terlihat dua lelaki bersiaga dengan senjata. Rupanya itu pemandangan keluarga gerilya yang sedang rehat di tengah perjuangan kemerdekaan. Keluarga itu tetap meluangkan waktu buat anak senang ketika genting perang.
Pesan serius juga dipaparkan lukisan Yuswantoro Adi, “Menukik” (1999). Seorang gadis kecil berdiri menatap nanar. Di depannya, ada mainan pesawat dari lipatan kertas yang sedang terbang menukik. Jika diperhatikan, kertas itu uang rupiah yang dilipat (origami). Terasa sindiran soal nilai rupiah yang turun saat itu—yang kebetulan juga berlangsung saat ini, Juni 2026.
Suasana berbeda disajikan Hendra Gunawan melalui lukisan “Bakul Wayang” (1968). Terlihat seorang balita perempuan yang sedang disusui ibunya. Sambil menyusui, ibu itu membiarkan rambut panjangnya disisir oleh perempuan lain di belakangnya. Mereka semua bersantai sambil menonton pentas wayang. Keterbatasan ekonomi tak menghalangi mereka bergembira.
Bagi para pelukis senior, tema anak kadang hanya jadi sampiran untuk mengutarakan pesan lebih jauh. Contoh-contoh lukisan di atas mengajak kita untuk merenungi hal-hal serius melampaui kelucuan dan keluguan dunia anak. Kita diundang untuk mengingat soal urbanisasi yang menggerus ruang bermain anak, kondisi ekonomi yang buruk akibat nilai tukar rupiah turun, kehidupan masa perjuangan, hingga rakyat yang tetap bisa bergembira di tengah keterbatasan.
Beralih ke lukisan karya para seniman cilik. Karya mereka umumnya mengekspresikan dunia sehari-hari. Ada rumah, anak-anak di sekolah, jajanan, karakter animasi, binatang, bunga, kegiatan bersantai sehari-hari, cerita nama pemberian orangtua, atau kisah saat mereka lahir.
Anak-anak itu menggambar apa saja yang mereka lihat secara spontan, tanpa dipikirkan “ndakik-ndakik”. Kepolosan dan kejujuran mereka tercermin dari bahasa visual yang bersahaja, apa adanya. Mereka melukis apa yang menarik perhatian, bukan semata meniru obyek semirip mungkin.
Kita bisa menangkap obyek-obyek yang dilukis, tetapi juga memahami bahwa hasilnya tidak selalu persis. Gaya visualnya lebih ekspresif. Maklum saja, mereka melukis dengan dorongan emosi atau rasa penasaran ketimbang logika rasional ala orang-orang dewasa.
Alih-alih meniru obyek seakurat mungkin, anak lebih fokus mengungkapkan reaksi mereka terhadap obyek yang menyita perhatian. Obyek-obyek yang memicu emosi lebih kuat akan digambar lebih besar atau diulang. Sebaliknya, obyek yang kurang “greget” digambar lebih kecil atau samar saja. Sentimen atau tekanan emosi anak-anak lebih menonjol saat berkarya.
Lewat bahasa gambar, anak-anak berusaha mengungkapkan diri. Lukisan mereka adalah cerita visual tentang apa yang mereka alami, lihat, dan ingin diceritakan kepada orang lain. Sebagai cerita, kerap kali imajinasi anak lebih liar, bebas, tanpa terbelenggu batas-batas rasional.
Sekali lagi, pameran ini menarik lantaran memperbandingkan bagaimana seniman dewasa dan seniman cilik mengungkapkan dunia anak sesuai perspektif masing-masing. Lukisan orangtua cenderung menawarkan pesan serius, sementara lukisan anak menyajikan cerita dengan khayalan tanpa batas.
Dalam konteks ini, boleh juga kita mengingat sindiran yang pernah dilontarkan pelukis Spanyol Pablo Picasso (1881-1972). Kata dia, orang dewasa sebaiknya jangan mengajar anak-anak untuk menggambar, sebaiknya orang dewasalah yang harus belajar dari anakanak. Imajinasi anak-anak sangat luas, menerabas batas-batas. Sementara imajinasi orang dewasa cenderung diarahkan pertimbangan-pertimbangan rasional.
Apresiasi untuk semua seniman yang menyajikan karyanya dalam pergelaran ini, baik seniman senior maupun para pelukis cilik. Penghargaan untuk Frans Sartono dan Efix Mulyadi sebagai kurator, Corporate Communication Director Kompas Gramedia (KG) Glory Oyong atas supportnya, serta seluruh tim Bentara Budaya dan Tim CorpCom KG yang mempersiapkan program ini.
Palmerah, 10 Juni 2026
Ilham Khoiri General Manager Bentara Budaya
& Communication Management, Corporate Communication Kompas Gramedia