Seorang bocah duduk sambil memejamkan mata rapat-rapat, seolah meringis. Di sampingnya, sesosok robot humanoid memegangi kepala sang bocah sembari mengarahkan mesin cukur ke rambutnya yang telah dikuncung. Selamat datang di masa depan!
Gambaran itu tersaji dalam lukisan karya Agung Pekik pada pameran seni rupa ”Mbesuuk: The Future of Yogyakarta” di Bentara Budaya Yogyakarta, Kota Yogyakarta. Pameran yang berlangsung hingga 9 Oktober 2026 itu dibuka pada Sabtu (26/9/2026) malam. Pameran dikuratori Sindhunata, Hermanu, dan Frans Sartono.
Robot pencukur rambut itu jelas mewakili imajinasi Agung tentang masa depan, sesuai tema mbesuk yang berarti ’hari esok’ atau ’masa depan’ dalam bahasa Jawa. Namun, Agung melangkah lebih jauh dengan menyematkan elemen multimedia berupa video buatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada karyanya.
Video pendek itu dapat disaksikan melalui ponsel dengan memindai kode respons cepat (quick response/QR code) yang terpasang di wajah robot. Elemen tersebut sekaligus menciptakan interaksi antara karya dan pengunjung.

Lukisan karya Agung Pekik yang ditampilkan dalam pembukaan pameran seni rupa "Mbesuuk: The Future of Yogyakarta", di Bentara Budaya Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026) malam.
Selain menerawang kehidupan kota di masa depan, Agung seolah sedang meraba perkembangan seni rupa di tengah kian pesatnya kemajuan teknologi.
”Ke depan, kita tidak bisa lepas dari yang namanya AI. Makanya, saya mencoba memasukkan unsur itu karena ingin ’berteman’ dengan AI,” tuturnya.
Meski begitu, karya berjudul ”Cukur Pithingan” tersebut tidak serta-merta meninggalkan masa kini dan masa lampau. Agung menghadirkan memori masa lalu melalui model rambut kuncung sang bocah, gaya rambut yang dahulu lazim dijumpai pada anak-anak kampung.
Sementara nuansa masa kini diwakili tempat pangkas rambut tradisional, lengkap dengan poster ”Top’s Collection” di belakangnya. Robot itu juga tampak mengenakan peci hitam yang menjadi bagian dari identitas lokal Nusantara.
Di sudut lain, imajinasi tentang masa depan Yogyakarta ditampilkan secara liar oleh para seniman. Total ada 19 seniman yang berpartisipasi dalam pameran ini melalui lukisan, karya instalasi, hingga seni kriya.

Lukisan karya Sriyadi Srinthil yang ditampilkan dalam pembukaan pameran seni rupa "Mbesuuk: The Future of Yogyakarta", di Bentara Budaya Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026) malam.
Ada lukisan ”Nyi Roro Kidul” berwujud cyborg yang muncul di tengah Laut Selatan karya Sriyadi Srinthil, manekin perempuan berkulit batik karya Nita Azhar, hingga lukisan Tugu Yogyakarta dan Malioboro tahun 2075 yang dikepung gedung-gedung pencakar langit dan mobil terbang karya Andry Boy Kurniawan.
Wajah masa depan Yogyakarta yang berbalut kearifan lokal juga ditonjolkan seniman Lindu Prasekti melalui karya instalasinya berjudul ”Andong Terbang”. Andong itu mengambil bentuk kereta kencana khas Keraton Yogyakarta berwarna hijau dengan garis kuning keemasan.
Kereta kencana tersebut dilengkapi empat baling-baling tertutup di sudut-sudut atapnya. ”Andong adalah kendaraan umum Yogyakarta yang khas sekaligus seksi. Jadi, saya bayangkan di masa depan andong tetap ada, tapi bisa terbang,” ujarnya sambil tertawa.
“Itu Yogyakarta yang kita harapkan, maju sambil terus menjaga tradisi.”
Karya Lindu sekaligus mengajak pengunjung merenungkan bahwa masa depan yang gegap gempita tidak seharusnya meninggalkan jati diri masyarakatnya. Yogyakarta memiliki modal untuk itu.
”Seperti di Jepang, teknologinya maju, tapi tradisinya tetap terjaga sampai saat ini. Itu Yogyakarta yang kita harapkan, maju sambil terus menjaga tradisi,” tutur Lindu.
Bagi seniman Erica Hestu Wahyuni, interpretasi tentang masa depan Yogyakarta lebih sederhana, tetapi dekat dengan persoalan hari ini. Ia melukiskan Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai sumber kegembiraan warganya.

Seni instalasi karya Lindu Prasekti yang ditampilkan dalam pembukaan pameran seni rupa "Mbesuuk: The Future of Yogyakarta", di Bentara Budaya Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026) malam.
Sumbu Filosofi Yogyakarta adalah konsep tata ruang Jawa yang dirancang Sultan Hamengku Buwono I ketika mendirikan Keraton Yogyakarta pada 1755. Sumbu Filosofi Yogyakarta kini berstatus sebagai warisan budaya dunia.
Konsep itu disimbolkan dengan garis imajiner yang membentang dari Panggung Krapyak di ujung selatan, Keraton Yogyakarta di tengah, hingga Tugu Golong Gilig di ujung utara. Perpanjangan garis imajiner tersebut menghubungkan Pantai Selatan di selatan dan Gunung Merapi di utara.
Erica menggambarkan kawasan Sumbu Filosofi dikelilingi aliran sungai seperti tembok pelindung. Kota Yogyakarta memang dilintasi sejumlah sungai besar, seperti Code, Winongo, dan Gajah Wong. ”Sungai itu adalah simbol lingkungan hidup yang harus dijaga agar masa depan Yogyakarta cerah,” katanya.
Ketika sungai dijaga kebersihan dan alirannya, Erica meyakini hasilnya akan dinikmati masyarakat, bukan hanya generasi sekarang, melainkan juga generasi-generasi berikutnya. Harmoni hubungan manusia dan alam menjadi salah satu kunci masa depan Yogyakarta.

Lukisan karya Erica Hestu Wahyuni yang ditampilkan dalam pembukaan pameran seni rupa "Mbesuuk: The Future of Yogyakarta", di Bentara Budaya Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026) malam.
Salah satu keistimewaan yang juga ditampilkan dalam pameran ini adalah lukisan karya Nasirun, seniman yang berpulang pada Agustus 2026. Lukisan di atas kayu berjudul ”Puser Bumi” itu menjadi salah satu karya terakhir sang maestro sebelum meninggal. Kini, karya tersebut menjadi koleksi Museum Anak Bajang di Omah Petroek, Sleman.
HUT Bentara Budaya
Pameran ”Mbesuuk: The Future of Yogyakarta” sekaligus digelar untuk memperingati HUT Ke-44 Bentara Budaya, lembaga kebudayaan Kompas Gramedia. Hari lahir lembaga itu merujuk pada pendirian Bentara Budaya Yogyakarta (BBY) pada 26 September 1982.
Corporate Communication Director Kompas Gramedia Glory Oyong, yang hadir dalam pembukaan pameran, mengatakan, pada usia ke-44, Bentara Budaya telah memasuki fase kematangan. Lembaga ini merupakan wujud komitmen Kompas Gramedia dalam merawat kebudayaan, sebagaimana dicita-citakan para pendiri Kompas Gramedia, yakni almarhum Jakob Oetama dan almarhum PK Ojong.
Ia berharap Bentara Budaya dapat lebih banyak menampung aspirasi para seniman dan memunculkan karya-karya seni yang dapat dibanggakan oleh generasi mendatang. Glory menambahkan, tahun ini Kompas Gramedia juga memiliki lembaga baru bernama Yayasan Berkat Budaya Sejahtera, yang salah satu tujuannya mendukung kegiatan kebudayaan dan kesenian.

Corporate Communication Director Kompas Gramedia Glory Oyong, didampingi GM Bentara Budaya & Communication Management Kompas Gramedia Ilham Khoiri (kiri), berpidato saat pembukaan Pameran Mbesuuk: The Future of Yogyakarta, di Bentara Budaya Yogyakarta, Kota Yogyakarta, Sabtu (26/9/2026) malam.
Sementara itu, General Manager Bentara Budaya and Communication Management Kompas Gramedia Ilham Khoiri menceritakan, Bentara Budaya bermula dari keinginan Kompas Gramedia untuk memanggungkan karya-karya seniman Yogyakarta yang tidak mendapat tempat di galeri arus utama.
Keinginan tersebut kemudian diwujudkan melalui pendirian BBY. Dalam perjalanannya, Kompas Gramedia mendirikan Bentara Budaya di sejumlah kota lain, termasuk Bentara Budaya Jakarta (BBJ) pada 1986.
Ilham menambahkan, momentum HUT ke-44 ini juga ditandai dengan renovasi bangunan BBY dan BBJ. Di BBY, sentuhan renovasi telah diwujudkan pada ruang pameran dan panggung pertunjukan di halaman.
”Kami berharap dengan perapian ini Bentara Budaya akan lebih maksimal membantu memanggungkan karya-karya kreatif, khususnya yang ada di Yogyakarta,” ujar Ilham.