JAKARTA, KOMPAS — Pameran bertajuk ”Imajinesia: News Art Project 2026–Menjangkau Masa Depan Indonesia” mempertemukan arsip berita Harian Kompas dengan interpretasi para seniman. Pameran arsip pemberitaan ini tak hanya merekam peristiwa yang berlangsung, tetapi juga dapat menjadi bahan untuk membaca kemungkinan masa depan.
Pameran Imajinesia: News Art Project 2026–Menjangkau Masa Depan Indonesia dibuka secara resmi oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno pada Rabu (23/9/2026). Pameran ini diadakan di Bentara Budaya Jakarta dan berlangsung sejak 24 September-15 Oktober 2026.
Seniman yang terlibat dalam pameran ini yakni Agus Suwage, Aprilia, Budi Ubrux, Mahdi Abdullah, Ruth Marbun, Suharmanto, Tumariyanto, dan William Robert. Sementara kurator pameran di antaranya Efix Mulyadi, Frans Sartono, Hermanu, Hilmi Faiq, Putu Fajar Arcana, Sindhunata, Wawan Abk, dan Wisnu Nugroho.
Pameran tersebut mengajak seniman menelusuri arsip pemberitaan Kompas dari berbagai bidang, mulai dari sosial, politik, ekonomi, metropolitan, sains dan teknologi, budaya, gaya hidup, hingga olahraga. Beragam peristiwa yang semula hadir sebagai berita kemudian diolah kembali melalui perspektif dan bahasa visual setiap seniman.

Karya Agus Suwage (kiri) dan Aprilia dalam pameran ”Imajinesia: News Art Project 2026–Menjangkau Masa Depan Indonesia” di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).
Konsep itu menjadi dasar tema pameran, ”Menjangkau Masa Depan Indonesia”. Melalui karya-karya yang ditampilkan, para seniman tidak hanya merefleksikan berbagai persoalan bangsa, tetapi juga diajak memikirkan kemungkinan perubahan dan peran masyarakat dalam membentuk masa depan Indonesia.
Melalui video sambutannya, Pratikno menyampaikan bahwa pameran ini mengingatkannya pada tahun 2017 ketika ia masih menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara. Saat itu, pemerintah meluncurkan bulan kemerdekaan sebagai salah satu acara memperingati Hari Kemerdekaan Ke-72 Indonesia.
”Kami membuka bulan kemerdekaan itu dengan pameran lukisan koleksi Istana Kepresiden. Dari situ saya semakin yakin kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan upacara. Kemerdekaan juga dirayakan dengan seni, warna, garis, dan imajinasi,” ujarnya.
Sama halnya dengan acara tersebut, pameran Imajinesia juga dinilai Pratikno menjadi ruang untuk membayangkan masa depan Indonesia melalui pertemuan antara imaji dan Indonesia. Menurut dia, Indonesia yang dibayangkan adalah negara yang maju dan modern, tetapi tetap mempertahankan akar budayanya.
“Semoga pameran ini menjadi ruang perjumpaan, ruang percakapan, ruang kejutan, ruang untuk saling memahami, dan simpul untuk merajut Indonesia. Indonesia yang saling menjaga serta saling menghargai yang semua warganya sama-sama bermartabat dan Bahagia”.
Pratikno mengatakan, Indonesia juga diharapkan terus tumbuh tanpa meninggalkan siapa pun. Kemajuan teknologi perlu berjalan seiring dengan peningkatan budi kepentingan, sementara Imajinesia menjadi upaya untuk membaca tanda-tanda, mengangkat kegelisahan, dan mendengarkan harapan tentang Indonesia yang masih terus dibangun.

Karya William Robert berjudul ”Nusa Laut” (kiri) dan ”Lumbung” dalam pameran Imajinesia: News Art Project 2026–Menjangkau Masa Depan Indonesia di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).
Seni memiliki peran penting dalam proses tersebut. Sebuah karya seni mungkin membutuhkan waktu lama untuk dibuat, tetapi dapat membuat orang berpikir jauh lebih lama. Seni tidak hadir untuk memberikan satu jawaban, tetapi membuka banyak kemungkinan.
”Semoga pameran ini menjadi ruang perjumpaan, ruang percakapan, ruang kejutan, ruang untuk saling memahami, dan simpul untuk merajut Indonesia. Indonesia yang saling menjaga serta saling menghargai yang semua warganya sama-sama bermartabat dan bahagia,” kata Pratikno.
Arsip dan seni
Kurator Bentara Budaya, Putu Fajar Arcana, mengutarakan, pameran Imajinesia berangkat dari pertanyaan sederhana tentang bagaimana arsip berita sebagai catatan peristiwa dapat menjadi sumber imajinasi. Pertanyaan tersebut kemudian melahirkan konsep news art project yang mempertemukan arsip jurnalistik dengan proses penciptaan karya seni.
Dalam pameran tersebut, delapan kurator Bentara Budaya dipasangkan dengan delapan perupa. Mereka bersama-sama membaca ulang arsip Harian Kompas sejak 1965 hingga saat ini untuk menemukan berbagai gagasan yang dapat dikembangkan menjadi karya seni.
Menurut Putu, nama Imajinesia merupakan persilangan antara imajinasi dan Indonesia. Konsep tersebut menjadi ajakan untuk berimajinasi tentang bangsa, dengan merujuk pada gagasan sejarawan Benedict Anderson dalam buku Imagined Communities bahwa sebuah bangsa merupakan sesuatu yang dibayangkan bersama-sama.

Seniman dan kurator dalam pembukaan pameran Imajinesia: News Art Project 2026–Menjangkau Masa Depan Indonesia di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).
Proses tersebut membuat para perupa tidak sekadar membaca arsip di ruang penyimpanan, tetapi seperti melakukan perjalanan menyusuri berbagai wilayah Indonesia melalui lembaran koran. Mereka menemukan suara-suara daerah, konflik, harapan, dan kegetiran yang terekam sejak Orde Lama, Orde Baru, hingga masa Reformasi.
Dari penelusuran itu, para perupa kemudian menyusun semacam peta keindonesiaan yang tidak hanya bersifat geografis. Peta tersebut kemudian dirajut dari serpihan peristiwa lintas pulau dan lintas zaman untuk kemudian dikonstruksi menjadi bayangan tentang Indonesia yang hendak dituju bersama.
Salah satu contoh karya ditunjukkan oleh Aprililia yang menggarap arsip tentang kebudayaan Minangkabau untuk mengembangkan lukisan yang simbolik dan penuh energi. Kemudian Suharmanto bertolak dari arsip berita tentang tewasnya Sum Kuning pada 1970 dan Marsinah pada 1993 untuk melukiskan sosok perempuan yang “diam” dan ditempa beban.
Berangkat dari berita mengenai wacana Maluku sebagai lumbung ikan nasional, William Robert melahirkan lukisan abstrak dengan bidang-bidang dan warna cemerlang. Adapun Ruth Marbun terinspirasi berita tentang Pak Mayar, petani penggarap di Cikeas, Jawa Barat, untuk membuat karya instalasi yang ekspresif.

Karya Suharmanto berjudul ”Dream” dalam pameran Imajinesia: News Art Project 2026–Menjangkau Masa Depan Indonesia di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat, Rabu (23/9/2026).
Sementara Budi Ubrux mengolah berita mengenai tingkah para politisi dalam kampanye pemilu menjadi lukisan manusia-manusia yang terbungkus koran dan digambarkan getol berjoget ria. Berita polemik militerisme di kawasan Blang Padang, Aceh, mendorong Mahdi Abdullah melukis pemandangan sawah bergaya mooi indie yang disisipi simbol tentara berloreng kehijauan.
Liputan tentang pabrik gula diolah Agus Suwage menjadi lukisan manusia-manusia di ladang tebu. Adapun Tumariyanto mengolah artikel terkait Chairil Anwar untuk melukiskan sosok penyair tersebut dalam balutan kebudayaan Indonesia yang bakal ”Hidup Seribu Tahun Lagi”.
General Manager Bentara Budaya Ilham Khoiri menambahkan, pameran ini menghadirkan pendekatan baru dalam penciptaan karya seni, yakni seniman berkarya berbasis riset terhadap arsip Kompas. Hasil riset tersebut kemudian ditransformasikan menjadi konsep dan akhirnya diwujudkan dalam bentuk karya seni.
”Semoga pendekatan semacam ini akan membantu memperkaya praktik-praktik seni rupa kita sehingga karya seni itu menjadi relevan dengan situasi dan betul-betul menyajikan perspektif seniman bersama kurator,” ungkapnya.