Bencana lingkungan, khususnya banjir dan tanah longsor, kencang mendera berbagai wilayah Indonesia. Korban bencana longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat di Jawa Barat bahkan masih dicari, sedangkan longsor dan banjir bandang di ujung utara Sumatera pada November silam masih memerlukan perhatian. Warga, termasuk seniman, terus bersolidaritas.
Seniman adalah bagian dari warga yang menyuarakan aksi solidaritas. Peran mereka tak berhenti pada menghasilkan karya menghibur. Mereka manusia dengan sensitivitas tinggi. Eksistensi dan penampilan mereka dipercaya mampu menggerakkan hati sesama manusia untuk membantu.
Musisi, misalnya, kerap berkoloni jika bencana terjadi. Sejumlah pemain gitar beraliansi dalam Gitaris untuk Negeri sejak 2010 merespons bencana letusan Gunung Merapi. Sejak penampilan pertama di Bentara Budaya Jakarta itu, mereka terpanggil kembali berkumpul manakala terjadi mala, seperti letusan Gunung Sinabung dan banjir Manado pada 2014, bencana likuifaksi di Palu pada 2018, dan tanah longsor Cianjur pada 2022.
Pada Senin (26/1/2026), kumpulan organik ini kembali tampil di Palmerah, tepatnya di Studio 1 Kompas TV, Jakarta. Ada 18 gitaris dan 9 penyanyi menyuguhkan persembahan terbaik mereka. Konser kali ini mengumpulkan dana untuk bencana lingkungan di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada November lalu.
Gitaris yang bersekutu kali ini adalah Andre Dinuth, Baim, Denny Chasmala, Dewa Budjana, Edi Kemput, Endah Widiastuti, Eet Sjahranie, Eross Chandra, Ezra Simanjuntak, Gugun ”Blues Shelter”, Ian Antono, Jubing Kristianto, Kin ”The Fly”, Kongko Cadillac, Ramadhista Akbar, Ridho Hafiedz, Stanly Bactian, dan Tohpati.
Mereka tampil dalam kelompok-kelompok kecil. Tiap kelompok ada penyanyinya. Para vokalis itu adalah Arda Hatna, Dira Sugandi, Ipang Lazuardi, Lea Simanjuntak, Nadhif Basalamah, Nyak Ina Raseuki (Ubiet), Sandy Canester, Tantri Sjalindri, dan Uap Widya.
Bukan cuma musik yang tersaji. Di selasar studio terpampang 15 lukisan yang dilelang. Hasil lelang didonasikan bagi pemulihan wilayah bencana. Hingga Senin siang, sebelum acara konser dimulai, 10 lukisan sudah pindah tangan ke donatur. Hasil lelang disalurkan melalui Dana Kemanusiaan Kompas (DKK).
Para perupa yang melelang karyanya adalah Afriani, Asmo Adji, Emmy Go, Eko Hand, Ilham Khoiri, Ika W Burhan, Kusdianti, Laiqa Twins (Niki dan Rubi), Nissan Kristiyanto, Putu Fajar Arcana, Saskia Gita Sakanti, Supantono, Tri Suharyanto, Setiyoko Hadi, dan Wiwik Oratmangun.
”Donasi lewat kesenian ini terbebas dari apa pun latar belakangnya, apa pun partai politiknya. Jika suka dengan karya seninya, bisa langsung berdonasi,” kata Ilham Khoiri, satu dari 15 pelukis, yang juga menjabat sebagai General Manager Bentara Budaya ini. Donasi yang terkumpul hingga pukul 21.00 mencapai lebih dari Rp 117 juta.
Demi kemanusiaan
Seluruh seniman yang terlibat menyatakan tulus terpanggil ikut serta dalam acara penggalanan dana ini. Alasannya sama: kemanusiaan. Nurani semacam itulah yang diperlukan kala ini, ketika bencana lingkungan justru diakibatkan oleh keputusan-keputusan politis. Sering kali, acara penggalangan dana juga digelar para ”penyebab” bencana itu sehingga menjelma semacam ajang ”penyucian dosa”.
Para gitaris ini, misalnya, menanggalkan posisi mereka sebagai pemain gitar dari band asalnya. Mereka tampil atas nama pribadi. Beberapa di antaranya berasal dari daerah terdampak.
Gitaris Kin Aulia yang pernah jadi personal band The Fly, misalnya, berasal dari Takengon, Aceh Tengah. Itu salah satu daerah yang terdampak bencana paling parah. ”Beberapa saudara saya masih ada di sana. Abang kandung saya juga di sana dan jadi perpanjangan tangan donasi dari kawan-kawan saya,” kata Kin, yang memakai baju bermotif khas Gayo.
Kin meneruskan, abangnya masih menelusuri dusun-dusun terdampak; memantau dan menyalurkan bantuan. Jika mendengar langsung laporan dari Sang Kakak, Kin terenyuh. Masih banyak warga dusun yang kesulitan mengakses bantuan, bahkan hal-hal yang bersifat primer sekalipun.
”Obat-obatan masih langka, padahal seharusnya saat ini sudah memasuki fase pemulihan. Ini masih sangat menyedihkan. Hujan tidak berhenti. Di kotanya, seperti Takengon, mungkin sudah mulai tahap pemulihan, jalan dibersihkan. Namun, di dusun, akses masih banyak yang terputus. Rasanya tahap pemulihan masih lama sekali,” ucap Kin.
Gitaris lainnya, Ezra Simanjuntak, sukar membendung haru ketika menceritakan bencana di Sumatera Utara. Gitaris gondrong ini sedang berada di Medan saat hujan tak berhenti lima hari di akhir November, yang berujung pada banjir. Saat itu, dia pribadi sedang berduka karena ibunya meninggal mendadak.
”Rasanya tak pantas berduka sendiri karena bencana banjir sangat besar. Saya sempatkan membuat acara amal juga di sana. Di acara itu, banyak yang cerita betapa buruk dampaknya. Empat sampai lima desa benar-benar bersih tersapu banjir. Bayangkan betapa banyak yang kehilangan keluarga dan rumah. Kita sepertinya harus benar-benar bersatu memperbaiki keadaan, tak perlu saling menyalahkan,” tutur Ezra.
Di awal konser—yang hanya disiarkan digital, Ezra bergabung dengan Eet Sjahranie dan Edi Kemput mengiringi Lea Simanjuntak menyanyikan lagu batak ”Ma Jo Ho Inang” yang sejatinya bernuansa sedih, tak siap ditinggal bunda. Cakupan nada tinggi Lea yang ditingkahi sayatan dawai dari tiga gitaris itu menjadikan lagu sendu itu lebih bernuansa rock. Eet kesusahan menahan dirinya untuk tidak mengangkat kaki saat bermelodi.
Saat lagu dinyanyikan, layar latar menampilkan gambar ukiran dan kain ulos khas batak. Gambar itu dirangkai dengan potongan video Danau Toba dengan bebukitan hijaunya. Seperti itulah seharusnya lansekap Sumatera Utara; berbukit hijau nan elok. Namun, seperti yang disampaikan Ezra, bencana lingkungan mengikis hutan-hutan.
Lembaga lingkungan Trend Asia dan Jatam menganggap deforestasi menjadi biang kerok bencana lingkungan di Sumatera. Merujuk dari laporan bersama lembaga Bersihkan Indonesia, tiga provinsi ujung utara Sumatera kehilangan hutan seluas 3,6 juta hektar dalam kurun sepuluh tahun terakhir. Hutan dipangkas demi industri ekstraktif yang dijalankan swasta dan juga program pemerintah.
Penyusutan hutan inilah yang melipatgandakan dampak siklon Senyar. Penyebab banjir yang menghanyutkan kayu-kayu gelondongan itu bukan badai semata. Seratusan ribu pengungsi masih tinggal di tenda meski kejadian memilukan itu terjadi dua bulan lalu. Masa pemulihan masih panjang, masih membutuhkan keterlibatan banyak orang. Para seniman ada di gerakan itu….
Sumber liputan : https://www.kompas.id/artikel/bencana-bergejolak-seniman-bergerak