Selain berkarya, Digie Sigit dan teman-teman juga membentuk kolektif Graphic Victims pada tahun 2005, sebagai gerakan kreatif yang merepons isu sosial, politik, lingkungan, maupun kemanusiaan. Sejak awal berdirinya, kolektif ini berorientasi untuk mendekatkan karya seni kepada masyarakat, tidak hanya melalui pameran di ruang galeri, tetapi juga dengan membuat karya di ruang publik, menjadikannya dapat diakses oleh berbagai lapisan masyarakat. “Apa yang dilakukan ini tak lain usaha untuk merebut kembali ruang publik. Saya percaya, jika semakin banyak seniman yang membagikan karyanya, maka ruang publik kita akan lebih manusiawi,” ujar Digie Sigit sembari menyoroti kecenderungan visual di jalanan yang riuh dan gaduh. Belakangan memang bermunculan kolektif-kolektif serupa di berbagai kota, yang menggunakan seni sebagai pendekatan visual di ruang publik. Walau tidak dipungkiri, masih banyak ditemui kasus-kasus yang memandang miring street art sebagai bentuk lain vandalisme. Bagaimana Digie Sigit bersiasat dengan perspektif yang memandang sinis pada ekspresi seni di ruang publik? Simak selengkapnya dalam podcast Bentara Budaya.