BERLANGGANAN
Dapatkan informasi tentang Bentara Budaya langsung ke surelmu. Daftarkan dirimu sekarang!

Kembali ke Video

PODCAST BENTARA BUDAYA 2026 Kali ini kita berbincang dengan Digie Sigit, seorang street artist kelahiran Yogyakarta, 29 April 1977. Karyanya tidak jarang ditemui di berbagai ruang publik di kota pelajar ini, dikerjakan dengan teknik stencil, suatu varian dalam seni grafis cetak saring. Ragam visual yang dia elaborasi tak lepas dari nuansa kritik sosial, namun dikemas secara simbolik dan mengundang tafsir. Perjalanan Digie Sigit dalam ekspresi seni di ruang publik tak lepas dari geliat Jogja di paruh akhir dekade 1990-an. Aspirasi politik yang menggelora, semangat reformasi yang membara, mendorongnya ikut turun ke jalanan menyuarakan kampanye positif di tengah keruhnya situasi. “Saat itu suasana tegang dan provokasi masif terjadi, sehingga kami para street artist saat itu membuat mural dengan pesan-pesan yang meneduhkan, seperti kita semua bersaudara dan semacamnya,” ungkapnya. Digie Sigit memang tidak menempuh studi seni sejak awal. Malahan, dia mengisi diri dengan bergaul di kalangan mahasiswa lintas kampus. Rupanya itu yang memperkaya pertemanan sekaligus kepekaannya akan wacana yang sedang menghangat di kotanya. Sampai sekarang Digie Sigit konsisten dalam dunia street artist, menjadikan karyanya tidak eksklusif, terpajang di titik-titik perkotaan, dan bisa dinikmati oleh siapa saja.