Sastra Bentara
HAN KANG DAN KITA:
Mungkinkah Sastrawan Indonesia Meraih Nobel Sastra?
Hari, tanggal: Jumat, 23 Oktober 2026 Pukul 14.00-16.00 WITA
Tempat: Ruang Vicon, Lt. 2 Gedung Citta Kelangen, Institut Seni Indonesia Bali, Jl. Nusa Indah, Denpasar
Narasumber: Prof. Dr. Koh Young Hun (Hankuk University of Foreign Studies, Korea Selatan)
Penganugerahan Nobel Sastra 2024 kepada Han Kang, novelis asal Korea Selatan, menjadi tonggak penting bagi kesusastraan Asia sekaligus membuka perbincangan mengenai posisi sastra Indonesia di panggung dunia. Melalui karya-karya seperti The Vegetarian, Human Acts, dan We Do Not Part, Han Kang mengolah trauma sejarah, kekerasan, dan ingatan kolektif melalui bahasa yang puitis dan menggugah. Pencapaiannya mengingatkan kita kepada Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Indonesia yang memperoleh pengakuan internasional dan namanya berulang kali diperbincangkan dalam kaitannya dengan Nobel Sastra. Perjalanan kedua sastrawan ini mengundang refleksi mengenai perkembangan kesusastraan Asia dan peluang sastra Indonesia memperoleh apresiasi lebih luas di tingkat dunia.
Sastra Bentara menghadirkan Prof. Dr. Koh Young Hun, akademisi, kritikus sastra, penulis, dan penerjemah asal Korea Selatan yang selama puluhan tahun menekuni sastra Melayu-Indonesia, khususnya karya Pramoedya Ananta Toer. Penulis Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia ini juga aktif menjembatani sastra Korea dan Indonesia melalui penerjemahan dan kajian lintas budaya. Melalui perspektifnya, perbincangan akan menelusuri pencapaian Han Kang, kedudukan Pramoedya dalam sastra dunia, serta peluang dan tantangan sastrawan Indonesia meraih pengakuan internasional, dengan turut mempertimbangkan peran pencapaian estetik, kritik sastra, penerjemahan, dan pertukaran kebudayaan.
Program ini bekerja sama dengan The Korea-Indonesia Center, dan didukung oleh Institut Seni Indonesia Bali (ISI BALI).
Profil Narsum:
Prof. Dr. Koh Young Hun merupakan akademisi, kritikus sastra, penulis, dan penerjemah asal Korea Selatan yang dikenal melalui kontribusinya dalam pengembangan studi sastra Melayu-Indonesia. Ia adalah Professor Emeritus pada Program Studi Melayu-Indonesia, Hankuk University of Foreign Studies (HUFS), Seoul, Korea Selatan. Pendidikan doktoralnya ditempuh di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, dengan penelitian yang berfokus pada karya sastra Pramoedya Ananta Toer.
Sejak 1994, Prof. Koh mengabdikan diri sebagai pengajar dan peneliti di HUFS. Ia pernah menjabat sebagai Dekan College of Asian Languages and Cultures (2019–2021), Direktur Institute of Southeast Asian Studies (2004–2006), serta Ketua Global Association of Indology and ASEAN Studies (2011–2013). Kini, ia menjabat sebagai Direktur The Korea-Indonesia Center.
Salah satu buku pentingnya, Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia (Gramedia Pustaka Utama, 2011), telah diterbitkan kembali dalam sejumlah edisi. Kiprahnya juga mencakup penerjemahan sastra Korea ke dalam bahasa Indonesia, antara lain kumpulan cerpen Laut dan Kupu-Kupu (2007) dan New York Bakery. Buku terkininya Jalan Raya Pos: Narasi Kehidupan dan Perjuangan Rakyat Indonesia (GPU, 2026). Atas dedikasinya dalam pengembangan kritik sastra dan hubungan kebudayaan Indonesia–Korea, Prof. Koh menerima Penghargaan Bali-Bhuwana Nata Kerthi Nugraha bidang Kritik Sastra Indonesia dari Institut Seni Indonesia Bali (2024) serta Penghargaan Satya Abdi Budaya pada KIPBIPA XIII (2025).