Pameran Batik Peranakan
“Harmony in Diversity”
Jakarta – Lasem – Cirebon – Pekalongan
Seniman: Dave Tjoa, Giok/Indrawati, Liem Po Hien, Valentina Ekawatiningsih, Sulistyono, Ho Som Nio, Rudi Siswanto
Penulis: Frans Sartono (Kurator Bentara Budaya)
Rangkaian Acara:
Pameran berlangsung: 6 – 12 November 2026 pukul 11.00 – 18.00 WIB
Bazaar Batik Peranakan: 5 – 8 November 2026
Workshop Batik Peranakan: Jumat, 6 November 2026 pukul 14.00 – 17.00 WIB
Talkshow Budaya & Batik Peranakan: Sabtu, 7 November 2026 pukul 15.30 – 17.00 WIB
Sketch Bersama Skecher Urban: Minggu, 8 November 2026 pukul 08.00 – 12.00 WIB
Tempat: House of Tugu, Old Town Jakarta
Info & Reservasi: WA. 0811 8711 248
“Harmony in Diversity”: Menyatu dalam Keindahan
Ketika orang bicara tentang Bhinneka Tunggal Ika, batik peranakan diam-diam mewujudkannya secara nyata. Tangan-tangan pembatik dengan tekun mewujudkan ke-bhinneka-an kehidupan negeri ini pada selembar batik peranakan. Dalam batik peranakan, tidak ada lagi Tionghoa Peranakan, Jawa, atau elemen kesukuan lain. Yang ada adalah selembar Indonesia yang indah. Semangat keberagaman, kebhinekaan Indonesia itulah yang menjiwai pameran “Harmony in Diversity” di House of Tugu, Kota Tua, Jakarta 5-12 November 2026.
Lewat pameran “Harmony in Diversity” ditegaskan bahwa perbedaan adalah keniscayaan hidup. Perbedaan bukan sesuatu yang merenggangkan hubungan antarmanusia. Batik peranakan sudah membuktikan bahwa perbedaan justru menghasilkan keindahan. Begitu pula dalam kehidupan sebagai bangsa, perbedaan diharapkan menjadi modal untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih kaya. Semangat itulah yang disampaikan lewat karya batik peranakan yang terus-menerus berkreasi menciptakan batik baru untuk diperkenalkan kepada khalayak luas hari ini, terutama kepada generasi muda.
Jejak kebudayaan Tionghoa memang sudah terlacak selama berabad-abad di Nusantara. Sejarawan Peter Carey menyebut jejak-jejak keberadaan budaya Tionghoa sudah ada di Jawa pada zaman Majapahit, bahkan jauh sebelum itu. Para pendatang kawin-mawin dengan penduduk tempatan, dan lahirlah apa yang disebut peranakan. Seiring dengan kehadiran budaya Tionghoa, proses akulturasi juga berlangsung secara alamiah di berbagai aspek kehidupan. Jejaknya tampak pada bidang kuliner, berbagai bentuk kesenian, termasuk batik peranakan.
Sebenarnya, jika dipikirkan, perbedaan antara budaya Tionghoa dan budaya negeri yang didatangi perantau Tionghoa itu begitu kompleks. Betapa tidak, masyarakat Tionghoa yang datang ke Nusantara sejak berabad-abad silam itu berasal dari suku, bahasa, dan budaya yang beragam. Negeri kepulauan yang mereka datangi yang disebut Nusantara itu pun tak kalah beragamnya. Maka, proses akulturasi yang berlangsung pun menghasilkan budaya yang amat sangat beragam.
Nyatanya, proses itu berjalan alami dan saling menguatkan. Kebudayaan Tionghoa yang datang ke Nusantara di kemudian hari ikut mewarnai kebudayaan nasional Indonesia. Sebaliknya, kebudayaan lokal ikut memperkaya kebudayaan para pendatang yang di kemudian hari menjadi bagian dari warga negeri ini. Presiden Soekarno sendiri menganggap Tionghoa peranakan sebagai salah satu suku di Indonesia. Begitu pula produk budaya peranakan yang ditumbuhkannya menjadi bagian dari Indonesia.
Pendiri Kompas-Gramedia, Bapak Jakob Oetama (1931-2020), dalam pameran budaya peranakan di Bentara Budaya Jakarta pernah mengatakan, produk budaya peranakan mencerminkan kekayaan budaya Indonesia. Kekayaan budaya Indonesia yang beragam itu sekaligus menegaskan bahwa Bhinneka Tunggal Ika tetap aktual dalam perubahan zaman; bahwa Indonesia akan tetap Bhinneka Tunggal Ika.
Jika kemudian Bentara Budaya Jakarta bekerjasama dengan House of Tugu untuk menggelar pameran “Harmony in Diversity”, program itu semata karena semangat yang mendasarinya tetap sama, yaitu merayakan kekayaan budaya Indonesia yang beragam lewat batik peranakan.
Frans Sartono
Kurator Bentara Budaya