Beranda Bentara
RUANG, RASA, SESAMA:
Refleksi Seni dan Kepedulian Hari Ini
Hari, tanggal: Jumat, 25 September 2016 Pukul 17.00 WITA
Tempat: Gedung Unit 1 Kompas Gramedia Ketewel, Jl. Prof. Ida Bagus Mantra No.88A, bypass Ketewel, Gianyar
Bencana yang berulang di berbagai wilayah Indonesia, perang yang terus meninggalkan korban dan pengungsian di sejumlah belahan dunia, serta persoalan lingkungan yang semakin dekat dengan keseharian Bali—dari sampah, air, hingga tekanan terhadap ruang hidup—menukik pada satu pertanyaan yang sama, yakni bagaimana rasa dan kepedulian dapat tetap terjaga ketika berbagai krisis hadir nyaris setiap hari di hadapan kita?
Hari ini publik dihadapkan pada banyak peristiwa dalam waktu yang seketika dan serentak. Berita tentang kehilangan, kehancuran, konflik, dan kerusakan lingkungan datang silih berganti melalui layar dan percakapan sehari-hari. Namun derasnya informasi tidak selalu mendekatkan simpati-empati atas pengalaman orang lain. Apa yang dikabarkan secara berulang perlahan dapat terasa biasa; tragedi berubah menjadi angka, sementara persoalan yang berada dekat dengan kehidupan sekitar mudah tenggelam oleh riuh peristiwa berikutnya.
Di tengah keadaan semacam itu, seni dan ruang publik tidak selalu menawarkan jawaban, terlebih penyelesaian, tetapi setidaknya dapat membuka kemungkinan untuk melihat sesuatu dari jarak yang berbeda. Melalui rupa, bunyi, olah tubuh, kata, pameran, maupun berbagai praktik kreatif lain, seni dapat membuka kembali kemungkinan untuk merasa, mempertanyakan, dan membaca keadaan di sekitar.
Ruang publik dan pusat kebudayaan bukan hanya tempat sebuah pameran, pertunjukan, atau diskusi diselenggarakan. Melalui ruang tersebut nilai-nilai terbentuk dari pertemuan berbagai pandangan, pengalaman, pertanyaan, bahkan perbedaan, yang menegaskan bahwa sebuah gagasan seringkali tumbuh dan terus berkembang melampaui usia sebuah acara.
Program dialog di Bentara Budaya Bali kali ini membincangkan mengenai hubungan antara seni, kepedulian, dan ruang publik hari ini. Bagaimana seniman membaca kegelisahan sosial dan ekologis di sekitarnya? Sejauh mana praktik kesenian dapat menjaga kepekaan tanpa harus kehilangan kebebasan kreatifnya? Bagaimana ruang publik dapat menjadi tempat tumbuhnya gagasan dan solidaritas, bukan semata latar berlangsungnya berbagai peristiwa?
Dialog ini sekaligus memaknai 44 tahun perjalanan Bentara Budaya yang dirayakan pada 26 September 2026.
Profil Narasumber:
Dr. Jean Couteau, merupakan seorang penulis multibahasa yang banyak menerbitkan tulisan dalam berbagai genre dan topik berbahasa Prancis, Inggris, dan Indonesia. Lulusan PhD Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales di Paris dan dosen tamu (S3 pascasarjana 2022) di Institut Seni Indonesia Denpasar. Dia adalah spesialis terkenal budaya Bali: “Bali, 50 tahun Perubahan, Percakapan dengan Jean Couteau,” 2022, dengan Eric Buvelot, “Bali Today I” (2005), “Bali Today II” (2008), “Puri Lukisan ” (2000), “Un Autre Temps: les Calendriers Tika de Bali” (2004), “Bali Inspires” (2011) dan “Time, Rites and Festivals in Bali” (2013, dengan Georges Breguet), “Myth, Magic and Mystery ini Bali” (2018). Baru-baru ini ia menjadi editor tamu di Timeless Yogyakarta. Ia juga dikenal sebagai kurator dan penulis seni dan menjadi editor senior majalah seni kontemporer C-Arts. Ia juga terkenal dengan artikel-artikelnya tentang budaya Bali yang diterbitkan setiap bulan dalam bahasa Inggris di majalah Now! Bali.
Dr. Ida Ayu Wayan Arya Satyani, akrab disapa Dayu Ani, lahir di Denpasar, 17 September 1977. Ia merupakan penari, koreografer, dan dosen di Institut Seni Indonesia Bali. Menekuni tari sejak usia 14 tahun di Sanggar Maha Bajra Sandhi, ia kini terus membina generasi muda melalui Yayasan Bumi Bajra Sandhi. Dayu Ani telah menciptakan berbagai karya tari, termasuk koreografi untuk film Sekala Niskala (Seen and Unseen) karya Kamila Andini serta teater tari The Seen and Unseen, kolaborasi lintas negara Jepang, Australia, dan Indonesia. Kiprahnya mencakup kolaborasi internasional dalam Body Tjak The Celebration (1999), The Missing Sun (2000–2001), Cultural Olympiad di Athena (2004), dan program Recovery Bali yang dipentaskan di enam negara Eropa (2006).
Made Kaek, lahir di Denpasar, 23 Januari 1967, merupakan perupa kontemporer Bali yang menempuh pendidikan hukum dan mengembangkan praktik seninya secara otodidak. Pengalaman di Yogyakarta mempertemukannya dengan Nyoman Gunarsa dan lingkungan seniman Bali, yang kemudian menguatkan pilihannya menekuni seni. Aktif berpameran sejak 1990, Kaek dikenal melalui figur-figur imajiner dan bentuk amorf yang tumbuh dari eksplorasi intuitif, pengalaman hidup, serta perjumpaan antara dunia nyata dan bawah sadar. Ia juga aktif dalam jejaring kesenian, termasuk Sanggar Dewata, dan mengembangkan Rumah Paros di Sukawati sebagai studio sekaligus ruang pamer dan pertemuan seni. Sejumlah pameran tunggalnya antara lain ‘Made Kaek #50’ (2017), Amorphous (2021), Cryptic (2022), Creatures Emerge (2022), dan Kala Api: The Age Of Pawns (2024).