Bentara Budaya Goes to School
"REKAM TRADISI REKA KREASI"
Hari/Tanggal: Kamis, 21 Agustus 2026
Waktu: Pukul 10.00-12.00 WITA
Tempat: SMK Saraswati 2 Denpasar, Jl. Soka No.47, Kesiman Kertalangu, Denpasar Timur
Sebuah cerita yang dahulu disampaikan secara lisan kini dapat dikreasi sebagai film pendek, dikembangkan menjadi animasi, diterjemahkan ke dalam ilustrasi digital, komik, fotografi, pertunjukan audiovisual, hingga direkam untuk konten media sosial. Namun, alih wahana tersebut bukan sekadar memindahkan cerita dari satu bentuk ke bentuk lainnya, melainkan sebuah proses kerja artistik untuk mengolah dan mengelola berbagai bahasa visual, keunggulan, bahkan keterbatasan setiap medium.
Perkembangan teknologi digital membuka ruang yang luas bagi generasi muda untuk merekam, mengolah, menciptakan, dan menyebarluaskan karya seni. Kamera telepon genggam, perangkat lunak desain, media sosial, kecerdasan artifisial, serta berbagai platform audiovisual memungkinkan gagasan yang berakar pada lingkungan lokal menjangkau khalayak yang lebih luas. Namun, kemudahan tersebut juga menghadirkan pertanyaan: bagaimana tradisi dapat diolah tanpa kehilangan konteks sosial dan budayanya? Bagaimana kearifan lokal diterjemahkan ke dalam bentuk baru tanpa berhenti sebagai ornamen visual, komoditas, atau penanda identitas yang dangkal?
Bentara Budaya Goes to School kali ini hadir ke SMK Saraswati 2 Denpasar, mengetengahkan Dialog Kreatif bertajuk “Rekam Tradisi Reka Kreasi” untuk membincangkan hubungan antara seni, alih media, digitalisasi, dan kearifan lokal. Kata rekam tidak hanya merujuk pada kegiatan dokumentasi, tetapi juga upaya mengenali, mengingat, dan membaca kembali pengetahuan budaya yang hidup di sekitar. Sementara itu, reka kreasi menunjuk pada keberanian mengolah pengetahuan tersebut menjadi karya baru melalui pilihan medium dan bahasa artistik yang sesuai dengan zaman.
Diskusi akan menelusuri bagaimana cerita, simbol, bunyi, gerak, karya rupa, kerajinan, permainan tradisional, maupun praktik budaya dapat dialihmediakan menjadi bentuk-bentuk kreatif baru. Tradisi lisan, misalnya, dapat diterjemahkan menjadi animasi atau siniar (podcast); karya sastra dapat dikembangkan menjadi film dan pertunjukan; seni rupa dapat hadir sebagai pengalaman audiovisual; sedangkan arsip budaya dapat diolah menjadi karya digital yang komunikatif bagi generasi masa kini. Praktik alih media semacam itu memungkinkan suatu pengetahuan menjangkau publik yang lebih luas. Namun, prosesnya memerlukan kecermatan dalam memahami sumber, nilai, pelaku, serta lingkungan sosial tempat kebudayaan tersebut tumbuh. Narasumber diskusi kali ini Dr. I Wayan Agus Eka Cahyadi, S.Sn., MA. (Akademisi ISI Bali).
Program ini meneruskan semangat Bentara Budaya Goes to School dalam mendekatkan ruang seni dan kebudayaan kepada generasi muda. Program ini diharapkan dapat mendorong tumbuhnya daya apresiasi, keberanian bereksperimen, kecakapan mengolah medium, serta kesadaran untuk menjadikan teknologi sebagai sarana membaca dan mengembangkan kekayaan budaya di sekitar mereka.