Pameran Seni Rupa
“SATU AKAR TIGA BAHASA”
Josephine Linggar, Agnes Linggar Budhisurya, Richard Linggar
Pembukaan pameran: Rabu, 26 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB
Pameran berlangsung: 27 Agustus – 23 September 2026 pukul 10.00 – 17.00 WIB
Tempat: Bentara Budaya Art Gallery, Menara Kompas Lt. 8, Jl. Palmerah Selatan No. 21 Jakarta Pusat
Pada bulan Agustus 2026, Bentara Budaya menggelar Pameran Seni Rupa bertajuk “Satu Akar Tiga Bahasa” yang akan diselenggarakan pada 26 Agustus – 30 September 2026 di Bentara Budaya Art Gallery.
Pameran ini menghadirkan karya-karya dari Keluarga Linggar, yakni Josephine Linggar (83), Agnes Linggar Budhisurya (80), dan Richard Linggar (79). Tiga bahasa seni yang tumbuh dari satu akar keluarga.
“Bunga – Bunga Kelurga Linggar”
“Napas seni berasal dari orangtua kami..” kata Agnes Linggar suatu kali. Ayah mereka Liem Tjun Hwat atau Linggar adalah perangkai bunga, baik dari bunga asli ataupun bunga yang dibuat dari kertas. Adapun Nyonya Linggar, ibu mereka, adalah pembuat gaun pengantin. Mereka yang dimaksud adalah anak-anak keluarga Linggar yaitu Edward Linggar (1944--2007), Josephine Linggar (83), Agnes Linggar (80), dan Richard LInggar (79). Lingkungan terdekat yang sibuk dengan praktik seni visual tersebut telah menyuburkan minat dan bakat anak-anak keluarga Linggar. Dan karya mereka bisa kita simak di Bentara Budaya Art Gellery, di Menara Kompas Lantai 8, Jakarta.
“Kami semua belajar seni secara otodidak. Kami menggeluti kesenian sendiri, tidak ada yang belajar seni di sekolahan,” kata Agnes melanjutkan. Deretan nama Linggar itu akan bertambah panjang jika ditambahkan nama Davy Linggar, seorang seniman fotografi, yang merupakan anak dari Richard Linggar.
Semangat berkreasi lahir dari situasi. Liem Tjun Hwat semula mempunyai usaha di bidang tembakau, akan tetapi karena tuntutan situasi dia beralih sebagai perangkai bunga. Suatu kali terjadi seretnya pasokan bunga. Situasi itu mendorong Linggar untuk membuat bunga dari kertas. Maka, bunga mawar hingga bunga anggrek dibuat sendiri oleh Linggar dari bahan kertas. Kadang untuk mendekati warna alami, Linggar menggunakan cat.
Anak tertua dari keluarga Linggar adalah Edward Linggar. Beliau pernah menjadi wartawan Harian Kompas pada masa awal koran ini berdiri.
Josephine pernah menggelar pameran di dalam maupun di luar negeri. Dia antara lain pernah berpameran tunggal di Jenewa, Swiss, pada 1994. Salah satu karya Josephine menjadi koleksi di Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Ia pernah melukis potret Presiden Megawati Soekarnoputri. Pada 2001 dan 2002, Josephine terpilih sebagai finalis Philip Morris Art Awards dan Indofood Art Awards.
Agnes Linggar Budhisurya merupakan perancang busana yang juga melukis dengan gaya realis. Ia memadukan seni rupa dan mode dengan menjadikan kain sebagai medium ekspresi artistik. Melalui teknik melukis bebas langsung di atas kain. Agnes pernah mendapatkan penghargaan MURI sebagai Perancang Busana Pertama yang Melukis Bebas di Atas Kain. Karya-karyanya pernah tampil di ajang mode di Festival di Shanghai, Indonesian Night di Washington D.C., Miss World Top Model Show di Bali.
Richard Linggar melukis dengan gaya realis. Richard menghadirkan karya-karya dengan dua pendekatan yang berjalan berdampingan, yaitu realis murni dan realis dekoratif. Ia juga merupakan seorang perangkai bunga dan decorator, dan juga menekuni fotografi.