Menyapa Nurani, Mencatat Kehidupan
26 Februari-14 Maret 2025, Pukul 10.00 – 17.00 WIB (Sabtu & Minggu tutup)
Bentara Budaya Art Gallery
Lantai 8, Menara Kompas
Pameran koleksi Bentara Budaya kali ini khusus menampilkan karya seni garfis. Bentara Budaya memang mempunyai kedekatan dengan seni grafis. Setidaknya, ada sejumlah peristiwa digelar berkait dengan seni grafis. Seperempat abad lalu, tepatnya pada Oktober 2000, Bentara Budaya menggelar pameran Setengah Abad Seni Grafis Indonesia. Kemudian pada tahun 2002 dihelat pameran Seni Grafis: Penjelajahan Media dan Gagasan. Dan pada 2003, untuk pertama kali Bentara Budaya menyelenggarakan kompetisi tiga tahunan Triennial Seni Grafis Indonesia. Lantas pada tahun 2008 Bentara Budaya mengadakan pameran Grafis Hari Ini.
Pameran Setengah Abad Seni Grafis Indonesia menerbitkan harapan akan semakin hidupnya seni grafis di Tanah Air. Pameran diikuti oleh sebanyak 70 pegrafis dengan 209 karya. Pada perhelatan yang sama diluncurkan pula buku berjudul Setengah Abad Seni Grafis Indonesia.
Kedua peristiwa tersebut memicu gagasan untuk membuat wadah kompetisi seni grafis secara berkala. Kompetisi dirancang untuk memacu dan menstimulasi kreativitas para seniman. Daharapkan pameran juga akan memberi semangat dan mendorong kontinunitas berkarya. Maka pada 2003 lahirlah Triennial Seni Grafis Indonesia. Kompetisi 3 tahunan ini berlangsung hingga 6 kali. Setelah titik awal tahun 2003, kemudian digelar perhelatan yang sama pada 2006, 2009, 2012, 2015, dan 2018. Pada Triennial yang ke lima tahun 2015, dan 2018 kompetisi dibuka untuk peserta intenasional.
Karya para pemenang Triennial Seni Grafis Indonesia tersebut menjadi bagian dari karya yang dipamerkan dalam pameran bertajuk Menyapa Nurani, Mencatat Kehidupan,. Selain itu, pameran koleksi seni grafis ini juga menampilkan koleksi karya grafis lain di luar karya hasil Triennial. Total pameran menampilkan 40 karya dari 27 seniman.
Mereka adalah Agus Prasetyo, Agus Suwage, Agus Yulianto, Agung Prabowo, Andre Tanama, Anggara Tua Sitompul, Arief Eko Saputro, Ariswan Adhitama, Bambang Kusdirgonugroho, Chalita Tantiwitkosol, Dodi Irwandi, Hui Zhang, Jayanta Naksar, Junko Hayakawa, M Fadhil Abdi, Muhlis Lugis, Irwanto Lentho, Nuttakarn Vajasut, Puritip Suriyapatapuran, Setiawan Sabana, Sri Maryanto, Syahrizal Pahlevi, Suromo, Theresia Agustina Sitompul, Tisna Sanjaya, Winarso Taufik, Zaini.
Menarik menikmati karya para seniman grafis dalam pameran ini. Di balik kerumitan teknik, njelimetnya pengerjaan , ada pergulatan pemikiran tentang berbagai aspek kehidupan manusia. Mereka mencatat beragam problematika manusia, dan dramatika kehidupan yang begitu kompleks. Dengan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran yang tinggi, seniman grafis berkarya; Dengan beragam teknik yang digunakan entah itu etsa, litografi, linocut, atau apapun , seniman grafis ingin berbagi pesan. Bisa jadi itu ungkapan pribadi, ekspresi emosional, kritik sosial, realitas kehidupan, potret sosial, dan eksplorasi narasi. Setiap teknik memiliki karakteristik unik yang mempengaruhi penerimaan pesan oleh publik. Dengan semua itu, seni grafis menjadi sarana komunikasi visual yang kuat untuk menyampaikan ide, emosi, dan perspektif seniman terhadap dunia.
Efix Mulyadi & Frans Sartono (Kurator Bentara Budaya)