Dari Cara Kerja Tanama
Pengamatan kepada gubahan AC Andre Tanama tiada dapat mengabaikan detil atawa kerincian, karena secara kasat mata Tanama memang merasuk ke dalam gubahannya sendiri; bagai membangun rumah jiwa.
Namun di dalamnya, meskipun memang berdiam, Tanama tidaklah diam—gambar-gambarnya menunjukkan itu: perfeksi. Jika belum sempurna belum berhenti, sebagaimana proses berkesenian yang membenamkan penggubah ke dalam pemusatan perhatian.
Dalam hal Tanama, rupanya, terdapat dua dimensi kesempurnaan: kesempurnaan teknis dan kesempurnaan spiritual. Keduanya bisa melebur, karena subjek dan pilihan format Tanama, justru tidak memanjakan yang sering menjadi mitos penggubahan seni: spontanitas dan pemuasan emosi.
Mengamati kerincian pada gubahannya, spontanitas dan pemuasan emosi teredam serta tersalurkan, melalui penataan partikel gambar terkecil secara cermat, dan tidak terhindar untuk menjadi sangat hati-hati.
Pada Tanama, dari temuan format satu ke temuan format lain, jika data tanggal dilibatkan dalam amatan, terdapat masa jeda, yang sebenarnyalah bukan jeda, melainkan suatu kerja pengendapan, yang tampak menyelamatkannya dari inkorporasi industri seni—tanpa harus membuatnya terasing dari pergaulan budaya dunia.
***
Bukankah mata besar sosok-sosoknya terhubungkan dengan manga, komik industri Jepang yang hegemonik di Indonesia?
Betapa pun, Tanama telah menghilangkan mulut dari wajah manga itu, yang berkonsekuensi kepada suatu penafsiran naratif. Pemandang dapat menafsirkannya sebagai sosok dengan gagasan, sosok dengan alur, atau memang terhadirkan sebagai sesuatu yang bersifat simbolik.
Mulut terhubungkan dengan kata-kata, terucap, tertulis, atau apa pun yang menyusun makna--tetapi dengan dihilangkannya mulut bukan berarti makna hilang, sebaliknya dengan suatu cara mempersoalkan makna, sekaligus membangun makna baru bersama ke-diam-an itu.
Apabila persoalan Vermeer dipertimbangkan, pendekatan intertekstual akan mengembangkan wacana yang menghubungkan bukan hanya Jepang dan Belanda, dengan segenap luka sejarahnya, melainkan juga antara realisme dan karikatur, abad ke-17 dan abad ke-21, serta antarpelukisnya—yang terakhir ini konsekuensinya berat, karena Tanama seperti mau melampaui Vermeer.

Vermeer yang diimbangi secara manual oleh Tanama
Caranya? Lukisan Dara Beranting Mutiara sebagai puncak realisme abad ke-17 itu disamai terlebih dahulu dengan teknik manual yang sama—semacam napak tilas ke dalam kesenyapan kerja Vermeer, yang hanya melahirkan 36 lukisan seumur hidup, demi kesempurnaan gubahannya. Kesenyapan Vermeer terserap ke dalam lenyapnya mulut dalam ke-diam-an sosok gubahan Tanama.
Dengan begitu, bukanlah semangat penertawaan karikatural manga terhadap realisme, melainkan penelusuran jejak kerja senyap, dalam pengerjaannya, yang dilakukan Tanama dengan intens dan setia. Tak hanya dari bidang sapuan yang satu ke bidang sapuan lain, melainkan juga dari garis ke garis, bahkan dari titik ke titik, seperti Vermeer, dikerjakannya—dalam semesta ketersenyapan.
***
Apabila seni merupakan jalan pembebasan, maka jalan itu berada dalam pilihan: apakah itu jalan menuju kesempurnaan (gubahan), ataukah itu jalan pengembaraan, yang dalam dirinya juga menjadi jalan kesempurnaan (jiwa).
Pemilahan teoretis ini dalam praktiknya dapat melebur maupun terpisah, tetapi apabila melibatkan seni industri (termasuk dalam industri pendidikan), maka akan terdapat berbagai faktor, yang membuat pemilahan dan peleburan itu secara teoretis tidak berlaku lagi.
Bahkan berlaku konsep lain, yang dalam puncak produktivitas industri seni tersebut, akan membuat asas kesenyapan dalam jalan menuju kesempurnaan gubahan, maupun jalan pengembaraan menuju kesempurnaan jiwa, menjadi kemewahan.
Tanpa harus menjadi sakral, jalan berkesenian, ketika memasuki proses penggubahan, bagaikan suatu rumah aman dalam kesenyapan yang bukan sekadar memerdekakan jiwa, tetapi juga mengembalikan manusia kepada dirinya sendiri.
Salam
Seno Gumira Ajidarma
Pondok Ranji, Minggu 16 November 2025. 23:17.