Tampak seorang bocah kecil tengah menyimak salah satu karya fotografi Paul Kadarisman yang di pamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, akhir April 2010. (foto: satmoko)
oleh Satmoko Budi Santoso
GAJAH sedang kencing, embun di daun, sekelompok orang nongkrong di mall, orang sedang menyeberang jalan, dan sejenisnya adalah obyek yang menjadi pilihan pertaruhan estetik bidikan fotografer Paul Kadarisman. Deretan foto-foto Paul Kadarisman tersebut sengaja dibingkai dalam pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta, 26-30 April 2010, dengan tajuk Boring Happy Days. Dari sejumlah obyek foto yang sudah terpapar di atas ditambah jika melongok tajuk pameran, maka sudah tertebak arahnya. Paul hanya berkeinginan menghadirkan foto-foto yang easy going, nirbeban pesan tertentu, kecuali “asal jepret saja”.
Meski begitu, tetap saja muncul kesan bahwa Paul ”tetap memilih momen tertentu”, tidak seluruhnya “asal jepret”. Dalam konteks inilah maka bisa saja dianggap bahwa Paul tetap mempertaruhkan kemungkinan munculnya “pesona” di dalam obyek foto yang dapat diterjemahkan merupakan wujud dari kebosanan. Jika mengamati foto-foto Paul secara lebih lengkap dengan mendatangi pameran, maka boleh jadi publik bakalan tergoda untuk sedikit menganalisa. Pertama, yang bosan sebenarnya Paul ketika memotret atau kedua obyek yang dipilih yang identik sedang menyiratkan kebosanan sehingga butuh pelampiasan untuk hang out dan sejenisnya?
Jika kemungkinan analisa pertama yang muncul berarti Paul seperti tidak mengejar keras aspek pesona atau estetisasi. Namun, jika kemungkinan analisa kedua yang mencuat sebagai ”kesimpulan” pameran, maka rupanya Paul tetap tak dapat menghindari dari aspek pesona atau estetisasi. Memang, secara subyektif, kesan yang muncul atas obyek foto Paul dalam pameran kali ini adalah bernuansa ”tumpang tindih”. Sepertinya, dalam beberapa foto, terjadi mood ulang-alik antara ”ambisi si pemotret” sebagai penerjemahan kemungkinan hasil analisa pertama dan menguatnya ”momen kebetulan” sebagai penerjemahan kemungkinan hasil analisa kedua. Artinya, tetap ada pertaruhan aspek kesadaran ”mempertimbangkan keindahan tertentu” baik dari sisi si pemotret maupun obyek yang dipilih? Meskipun aspek kesadaran ”mempertimbangkan keindahan tertentu” tersebut bisa jadi amat tak begitu dominan dan prosentasenya amat kecil?
Dalam tulisannya di lembaran serupa katalog, kurator Alexander Supartono memberi catatan soal pembacaan atas karya Paul yang mengarah pada kekuatan pilihan atas suasana. Menerjemahkan maksud catatan ini, suasana yang dipilih Paul pun rupanya adalah suasana yang identik merupakan bagian dari ”bawah sadar terdalamnya” sehari-hari. Betapa Paul terlihat begitu akrab dengan perspektif tertentu misalnya lanskap kota dan suasana keriuhan di dalamnya. Boleh jadi, pilihan berekspresi sebagaimana yang dilakukan Paul merupakan cara terbaik dalam membingkai aktivitas masyarakat urban dan segala isinya yang ada di perkotaan. Dengan begitu, foto-foto Paul juga dapat berperan sebagaimana catatan harian yang remeh-temeh dan sepele.
Meski begitu, kita tahu, salah satu fungsi catatan harian walaupun bisa saja hanya berisi hal yang remeh-temeh suatu ketika bisa menjadi tengokan ”sejarah tersendiri”. Dalam konteks foto Paul, tengokan atas ”sejarah tersendiri” tersebut bisa berperan ganda. Dalam kadar tertentu menjadi bernilai reflektif bagi si pemotret maupun nilai suasana obyek yang dipilih. Misalnya, orang menjadi tahu bahwa dalam hidup ada saat momen ”tak berarti dan tak produktif” dan itu bisa saja mengasyikkan atau malah sebaliknya.
Menggenapkan orientasi easy going foto-foto Paul, bahkan dalam pemberian judul pun ia juga tampak easy going. Sama dengan hasil foto. Kalau ada obyek orang berposisi sedang membungkuk judulnya ya membungkuk. Kalau ada gajah sedang kencing judulnya ya Elephant. Meski begitu, dari orientasi foto Paul yang easy going, barangkali ia justru bersitegang dengan paradoks yang membuatnya bagai berada di dalam ”persimpangan”. Diam-diam Paul justru memberi perhatian yang lebih dan sesungguhnya sedang merancang menaruh pemaknaan tertentu terhadap hal yang ”tertakdirkan” menjadi sia-sia, yakni momen-momen membosankan itu? ***
dicopy dari http://www.indonesiaartnews.or.id/newsdetil.php?id=66