19 April 2010 / berita
Warning Untuk Seni Di Bentara Budaya Yogyakarta
Warning Untuk Seni Di Bentara Budaya Yogyakarta

Pameran Warning for Art di Bentara Budaya Yogyakarta. Foto:Tempo/Muh. Syaifullah

TEMPO Interaktif, Yogyakarta -

Berbagai bencana yang menimpa dunia, dari gempa bumi, tsunami, banjir hingga ricuh politik semakin menambah muram potret wajah negeri. Pikiran untuk melestarikan dan sikap bersahabat dengan alam perlu ditanamkan di setiap kepala. Karena setiap kali bercermin, kita sudah terlambat untuk menyadarinya.

Kalimat itu diterjemahkan oleh Teguh Wiyatno, pelukis muda asal Yogyakarta, di atas kertas dengan wujujd seorang lelaki tua . Kakek itu berjenggot mirip stalagnit gua, berambut berbentuk akar-akar tumbuhan, dan berkumis seperti rerumputan kerin. Di atas kepalanya yang mulai botak tampak gambar petani yang sedang menggarap sawah. Lukisan berukuran 75 x 56 sentimeter dengan bahan cat air itu merupakan salah satu lukisan yang dipamerkan oleh lima pelukis muda yang tergabung dalam seniman Kelompok Jiwa Yogyakarta di Bentara Budaya Yogyakarta, 17 April hingga 25 April 2010 mendatang. Mereka adalah Teguh Wiyatno, Tumariyanto, Paikun, Bagus Triyono, Bambang Hariyono Rianto.

Teguh Wiyatno membuat lukisan dengan sangat detail berdasarkan standar akademis dan dituangkan secara artistik dan estetik, dengan konten yang menarik. Jika diamati, enam lukisannya yang tampil dalam berbagai ukuran karya Teguh hampir tanpa cacat. Kurator pameran Deni Junaidi menjelaskan penggarapan lukisan dengan perpaduan cat air seperti yang dilakukanTeguh tidak boleh salah. Jika salah, maka harus mengganti kertas atau ada improvisasi lukisan.

“Hampir tidak ada salah dalam lukisan karya Teguh, melukis di atas kertas lebih sulit daripada melukis di atas kanvas, apalagi bahannya dari cat air,” kata Dedi saat ditemui di lokasi pameran bertajuk Warning for Art itu.

Lukisan karya Bagus juga tak kalah rumit. Dia membuat lukisan di atas kertas dengan memadukan bahan dari cat air dan pensil. Empat lukisan yang dipamerkan bertema keprihatinan. Pada lukisan berjudul Dimana misalnya, ia menggambar seorang bocah dengan bola kaki yang tergeletak di dekat kakinya. Di sampingnya berdiri rumah dan gedung perkantoran yang tinggi.

Lukisan berukuran 60 sentimeter kali 90 sentimeter itu menggambarkan bagaimana perkembangan ekonomi bagaikan arus besar yang melibas lahan bermain anak-anak. Dalam lukisan yang pernah dipamerkan di Jakarta Art Work di Ancol pada 2008 itu tergambar bagaimana kecerianan sang anak hilang dengan tergusurnya sarana bermain di sekitarnya.


Lukisan karya Bagus lainnya berjudul Larut memperlihatkan empat perempuan berpakaian ketat dengan uang di sekitar bawah perutnya. Lukisan ini mengungkapan keprihatinannya terhadap para perempuan yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang, dengan menggadaikan hidup dan menjual harga dirinya hanya demi rupiah.

Lain lagi dengan Tumariyono yang melukis di atas kertas dengan pastel. Kalau biasanya lukisan dengan pastel terlihat suram, enam lukisan Tumariyono justru terlihat cerah. Keenam lukisannya bertemakan manusia, dari bayi hingga orang yang sudah sangat tua. Pada lukisan bertajuk Nikmat yang Terangkat ia melukis seorang kakek tanpa baju mengenakan caping. Di belakangnya terlihat dua anak kecil, sedangkan di depannya tampak seorang bayi yang sedang menghisap jempol. Di latar belakangnya terlihat gedung tinggi dan pohon yang kering. Ia ingin menggambarkan waktu yang kian melesat mengiringi perubahan global yang rakus melumat peradaban. Keharmonisan semakin menghilang.

Tengok juga lukisan karya Paikun berjudul over load yang menggambarkan seorang tukang becak yang sedang menaikkan barang di atas becaknya. Barang yang diangkut melebihi kapasitas becak sehingga rodanya mleyot karena tidak kuat menahan beban. Lukisan berukuran 150 x 200 sentimeter itu didasari pikiran Paikun bahwa untuk menuju kebahagiaan terkadang selalu diusahakan, bahkan cenderung memaksa. Akibatnya tujuan justru tidak sampai.

Pelukis lainnya, Bambang, melukis di atas kertas dengan pensil warna. Satu dari enam lukisannya Sang Waktu menunjukkan seorang perempuan bergaun panjang dengan rambut terurai tengah tercekik jarum jam. Lukisan berukuran 56 x 76 sentimeter itu menggambarkan perputaran jarum jam seakan mengiringi langkah hidup seseorang. Waktu menjadi bayangan dan membayangi hidupnya.

Oei Hong Djien, kolektor ternama yang membuka pameran itu menilai lukisan kelima perupa yang beraliran surealisme itu sangat bagus. Bahkan ia sangat ingin mengoleksi lukisan karya mereka. Sayangnya dia kalah cepat karena 29 lukisan yang dipamerkan itusudah diborong seorang kolektor dari Jakarta.“Saya sangat ingin mengoleksi karya mereka untuk koleksi museum, nanti saya harap ada lukisan mereka yang bisa jadi bahan koleksi,” kata dia.

MUH SYAIFULLAH

diunduh dari: http://www.bentarabudaya.com/bbadmin/berita.php?action=add

Affiliasi:
Dewan Kesenian Jakarta Galeri Nasional KELOLA Indonesia Art News
Copyright © 2005 - 2008 Bentara Budaya. All rights Reserved.