09 April 2010 / ulasan
Wayang Gantung di Ambang Kepunahan

Jumat, 9 April 2010 | 05:11 WIB

Kesenian wayang gantung di Kota Singkawang, Kalimantan Barat, saat ini berada di ambang kepunahan karena peminatnya semakin sedikit. Perlu upaya serius untuk mengembalikan seni tradisi lokal itu agar kembali digemari semua kalangan.

Peneliti budaya Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak Wilayah Kerja Kalimantan Benedicta, Kamis (8/4) di Pontianak, mengatakan, awalnya terdapat lima komunitas wayang gantung di Singkawang. Saat ini tinggal satu komunitas dan satu dalang.

”Wayang gantung menghilang dari panggung masyarakat ketika Orde Baru melarang pementasan budaya Tionghoa di muka umum. Satu komunitas yang tersisa masih eksis karena menjalankan fungsi sosialisasi untuk Badan Koordinasi Keluarga Berencana selama Orde Baru,” kata Benedicta.

Benedicta yang mulai meneliti kesenian tradisional wayang gantung tahun 2009 mengatakan, satu dalang yang tersisa adalah Chin Nen Sin dari komunitas Shin Thian Cai. Wayang gantung dipentaskan dengan menggunakan bahasa Tionghoa dialek Hakka atau Kek.

”Dialek Hakka tidak bisa dimengerti semua orang sehingga peminatnya sebagian besar juga hanya orang-orang keturunan China yang fasih menggunakan dialek itu,” tutur Benedicta.

Wayang gantung adalah kesenian lokal masyarakat Tionghoa di Singkawang. Kesenian itu dahulu kala dipentaskan dalam acara yang menyangkut daur hidup masyarakat dan acara-acara religi. Wayang itu berbentuk seperti boneka, yang kepalanya bisa dilepas dan diganti dengan kepala tokoh lain. Wayang ini dimainkan dengan menarik tali yang terikat di kaki dan tangan.

Wayang gantung bertutur mengenai cerita-cerita klasik Tiongkok, seperti kehidupan para kesatria atau misi suci. Dalam perkembangan di Singkawang, wayang gantung juga bertutur mengenai cerita kehidupan masyarakat pada umumnya.

Kesenian wayang gantung masuk ke Singkawang tahun 1929. Sumber lain menyebutkan, kesenian itu mulai ada di Singkawang tahun 1911 bersamaan dengan migrasi masyarakat Tionghoa dari China Selatan ke Singkawang.

Wakil Wali Kota Singkawang Edy R Yacoub mengatakan, salah satu upaya menghidupkan seni wayang gantung adalah membuat acara-acara kebudayaan yang memungkinkan wayang gantung bisa dipentaskan. ”Belum lama ini, salah satu pameran foto juga menggunakan obyek wayang gantung. Ini termasuk terobosan agar wayang gantung bisa kembali diminati dan menjadi perhatian semua kalangan,” ujarnya.

Edy juga sedang mengusulkan digelarnya festival wayang gantung untuk komunitas-komunitas di Singkawang. (aha)

Affiliasi:
Dewan Kesenian Jakarta Galeri Nasional KELOLA Indonesia Art News
Copyright © 2005 - 2008 Bentara Budaya. All rights Reserved.