Masmundari sesungguhnya tak paham bahwa ia dilahirkan sebagai pelukis. Yang ia tahu, telah puluhan tahun hidupnya hanya bergantung pada rezeki yang ia peroleh dari hasil kerjanya menggambari dinding luar lampion kertas atau damar kurung. Gambarnya memang lucu dan unik. Ia suka membagi secara horisontal bidang gambarnya menjadi tiga bagian, hingga karyanya mirip komik. Dan memang, gambarnya selalu bercerita. Dengan bahan tinta bak dan pewarna tradisionil, dalam karya Pesta Nikah ini misalnya, Masmundari mendongeng tentang kesibukan kaum perempuan di tengah kemeriahan suasana pesta. Hanya perempuan. Mereka tampil dan berpakaian ala gaya noni-noni Belanda. Dan kesemuanya terlihat bekerja, kecuali dua bocah kecil dan satu yang "terbang", bergelantungan di antara lampu-lampu hias. Naif dan kocak.