
06 November 2008
Tanggal 24 September 2008, di Bentara Budaya Jakarta berlangsung diskusi sastra bertema Spiritualitas dalam Sastra bersama Yudi Latif (pemikir kebudayaan), St Sunardi (ahli sastra dan filsafat Islam), Abdul Hadi WM (penyair, peneliti sastra Islam), dan dimoderatori Radhar Panca Dahana (penyair). Belakangan berkembang sastra religius atau tema-tema spiritual yang tidak hanya mengekspresikan ketakjuban namun juga menyingkap “hidup” seperti apa yang ada. Sebutlah itu semacam profanisasi dari simbol-simbol sakral, bahkan menjadi kritik yang keras terhadap keyakinan-keyakinan tradisional kita. Maka sungguh menarik untuk meninjau kembali bagaimana spiritualitas di masa kini mengambil atau memosisikan dirinya dalam dunia sastra. Atau seberapa jauh, seberapa dalam, dalam bentuk bagaimana, dan seterusnya, sastra melihat dan memosisikan spiritualitas dalam semua medium ekspresinya? Dalam konteksnya dengan situasi negara belakangan ini muncullah ekspresi-ekspresi religius yang dijadikan dalih atau pembenaran untuk menghujat, menghakimi atau menyerang orang lain, termasuk pemilik keyakinan lain. Apakah karena apresiasi terhadap produk-produk literer yang minim, turut mendorong ekspresi ekstrim itu? Diskusi dilengkapi dengan pemaparan hasil riset kepustakaan serta angket kepada peminat sastra di Jakarta dan sekitar terkait tema tersebut. Acara ini diselenggarakan bersama dengan Kompas dan Bale Sastra Kecapi. Hasil survey dan makalah ketiga pembicara, selengkapnya, kami muat di Bilik Wacana ini. [lihat lebih lengkap]
26 September 2008
Berangkat dari cerpen "Surga Anak-Anak" yang mengambil tema pendidikan agama dalam masyarakat modern dan dilanjutkan pengamatan singkat atas sejumlah karya Mahfûz, saya bisa menyimpulkan bahwa sastra mempunyai kekuatan spiritualitas justru karena sastra menyuarakan imanensi manusia (batas-batas kemanusiaan) dan bukannya melantunkan "suara dari langit". Spiritualitas berkaitan dengan suara manusia yang terus-menerus mencari dan mencari yang lain. Malah, nuansa spiritual tidak musti terkait langsung dengan agama. Dalam konteks ini sastra malah mempunyai caranya sendiri untuk mendefinisikan dan meredifinisikan apa itu "spiritualitas". [lihat lebih lengkap]
26 September 2008
Pada abad ke-12 dan 13 M, yaitu masa berkecemuknya Perang Salib dan invansi Mongol, yang menyebabkan hancurnya kekhalifataan Baghdad dan terjadinya diaspora besar-besaran orang Islam; tarekat-tarekat sufi berkembang subur dan pecah ke dalam banyak aliran. Mereka memiliki jaringan-jaringan luas di seantaro Dunia Islam. Terdapat juga tarekat memiliki organisasi sosial keagamaan yang disebut futuwwa dan gilde-gilde (organisasi dagang) yang disebut ta`ifa dengan jaringan-jaringan yang luas pula. Pada masi inilah sastra sufi mulai mencapai puncak kesuburan dan kematangannya, yang terus tumbuh pesat setidak-tidaknya hingga abad ke-19 M. [lihat lebih lengkap]
26 September 2008
Gadis Yunani itu ternyata beragama Nasrani. Syekh San'an sangat terpesona oleh kecantikannya. Ia berseru kepada murid-muridnya, "O alangkah dahsyat cintaku kepadanya. Andaikata aku dapat membebaskan diri dari kungkungan agama, tentulah aku beruntung dan bahagia!" Murid-muridnya mengerti maksud perkataan gurunya. Sementara itu Syekh San'an benar-benar terbakar api asmara. Dia merasa muda kembali, dan darah di tubuhnya bergelora. Dia berhasrat mendapatkan gadis Yunani itu dan menjadikan istrinya seumur hidup. [lihat lebih lengkap]
26 September 2008
Kehendak menyatu dengan kosmos ini membuat manusia pada dasarnya religius. Oleh karena itu, kehidupan spiritual, menurut Maslow, merupakan unsur kemanusian yang paling esensial. Kehidupan spiritual merupakan komponen dasar dari kehidupan biologis kita. Kehadirannya seperti instink, yang dapat didengar melalui "suara impuls" yang muncul dari dalam hati. [lihat lebih lengkap]
26 September 2008
Memasuki perkembangan budaya kontemporer, tampaknya tema sastra bercorak religius tidak pernah mati. Apakah ia sebagai jawaban atas kekeringan kehidupan batin manusia modern ataukah sebagai pelarian dari kekerasan kehidupan yang masih diliputi konflik antarnegara, sosial, agama, etnis, individu, batin, dan degradasi lingkungan hidup yang membuat dunia sastra mau tak mau harus ambil bagian dalam dunia yang semakin sakit ini. Maka, mau tak mau, dalam dunia seperti ini, untuk meminjam ungkapan Romo Mangunwijaya dua puluh tahun yang lalu, "setiap karya sastra yang berkualitas selalu berjiwa religius." [lihat lebih lengkap]
10 September 2008
Pertengahan hingga akhir Agustus lalu Bentara Budaya Yogyakarta menyelenggarakan Pameran Ana Dina Ana Upa, Ada Hari Ada Nasi.Ditampilkan beragam gambar sungging wayang tentang para dewa penaung musim berdasar hitungan Jawa. Juga sejumlah copy lukisan buatan tahun 1932 oleh pelukis JEF asal Belanda, yang menggambarkan alam pertanian tradisional di Jawa pada zamannya. Mengiringi pameran, diterbitkan katalog yang berisi tulisan tentang legenda Dewi Sri dan Sadana, Loro Blonyo, dan sorotan Sindhunata terhadap budaya Pranatamangsa, yang keberadaannya terancam musnah. [lihat lebih lengkap]
20 Agustus 2008
Peranan keris dalam masyarakat Melayu begitu besar sekali, bukan hanya senjata tempur tetapi juga meliputi segala aspek kehidupan. [lihat lebih lengkap]
20 Agustus 2008
Tujuan kertas kerja ini adalah untuk memberi pandangan sepintas lalu tentang
perkembangan semasa budaya perkerisan di S'pura dan faktor penentu yg
mempengaruhi perkembangan ini. [lihat lebih lengkap]
20 Agustus 2008
Perkembangan dunia perkerisan masa kini sungguh sangat menggembirakan. Keris buatan masa kini yang sebelumnya kurang mendapat perhatian, saat ini sudah mulai nampak diapresiasi oleh para penggemar keris. [lihat lebih lengkap]
16 November 2008 15 November 2008 11 November 2008 04 November 2008 30 Oktober 2008
|