
Tanggal 24 September 2008, di Bentara Budaya Jakarta berlangsung diskusi sastra bertema Spiritualitas dalam Sastra bersama Yudi Latif (pemikir kebudayaan), St Sunardi (ahli sastra dan filsafat Islam), Abdul Hadi WM (penyair, peneliti sastra Islam), dan dimoderatori Radhar Panca Dahana (penyair). Belakangan berkembang sastra religius atau tema-tema spiritual yang tidak hanya mengekspresikan ketakjuban namun juga menyingkap “hidup” seperti apa yang ada. Sebutlah itu semacam profanisasi dari simbol-simbol sakral, bahkan menjadi kritik yang keras terhadap keyakinan-keyakinan tradisional kita. Maka sungguh menarik untuk meninjau kembali bagaimana spiritualitas di masa kini mengambil atau memosisikan dirinya dalam dunia sastra. Atau seberapa jauh, seberapa dalam, dalam bentuk bagaimana, dan seterusnya, sastra melihat dan memosisikan spiritualitas dalam semua medium ekspresinya? Dalam konteksnya dengan situasi negara belakangan ini muncullah ekspresi-ekspresi religius yang dijadikan dalih atau pembenaran untuk menghujat, menghakimi atau menyerang orang lain, termasuk pemilik keyakinan lain. Apakah karena apresiasi terhadap produk-produk literer yang minim, turut mendorong ekspresi ekstrim itu? Diskusi dilengkapi dengan pemaparan hasil riset kepustakaan serta angket kepada peminat sastra di Jakarta dan sekitar terkait tema tersebut. Acara ini diselenggarakan bersama dengan Kompas dan Bale Sastra Kecapi. Hasil survey dan makalah ketiga pembicara, selengkapnya, kami muat di Bilik Wacana ini.