Pameran foto “Kelangan Alon-Alon” Oleh Komunitas Sebelah Mata
24 – 30Juli 2010
Diskusi Fotografi
25 Juli 2010, pkl 19.00 - 21.00
“Membidik Pasar Jurnalistik Foto”
Oleh Oscar Siagian dan Ulet Ivan Sasti
(dalam konfirmasi)
Penutupan dan Sarasehan karya
30 Juli 2010, Pkl: 19.00-21.00
Oleh Komunitas Sebelah Mata
Atas nama perubahan masyarakat secara sadar atau tidak, akan menyisihkan sebagian dari kebiasaan dan cara hidup dengan berbagai alasan: harapan atau desakan. Serupa “spesies” yang hilang atau sekadar berubah bentuk untuk menyesuaikan diri dengan perubahan iklim, ketersediaan makanan, hingga bencana alam. Begitu pula budaya manusia, turut menyisihkan beberapa organnya, dalam penyesuaian yang serupa dengan spesies, ditambah perubahan baru dari ekonomi, politik, teknologi, religi?
Jogja adalah sebuah sampel kecil dari masyarakat yang terus ber-evolusi. Siapapun yang telah cukup lama hidup di dalamnya, dan “Ngombe banyune Jogja” (menghisap inti-sarinya Jogja), akan menyadari, beberapa bagian tubuhnya telah tertinggal atau termodifikasi, atas nama perubahan.
Dahulu selalu ada andong, musisi jalanan, atau orang-orang duduk bersila seperti lagu KLA Project yang semua orang pasti tahu, tapi saat ini akan jarang ditemui. Seorang teman yang hingga saat ini memilih hidup tanpa telepon genggam dan internet menceritakan sebuah pengalaman, bahwa tanpa peralatan-peralatan tersebut, hidupnya tetap produktif dan baik-baik saja. Apakah setiap alat, makanan, pakaian, kesenian dan cara hidup yang ditinggalkan, telah meningkatkan kualitas dan martabat kita atau sebaliknya.
Pameran foto “Kelangan Alon-Alon”, diselenggarakan oleh Komunitas Sebelah Mata mencoba mencermati kisah-kisah ini, sebuah dialog antara manusia, benda di dalam evolusi peradaban, apa yang menang - apa yang kalah.